<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="18232">
<titleInfo>
<title><![CDATA[IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUTUSAN PET ANI PEMILIK LAHAN UNTUK MENJUAL&#47;TIDAK MENJUAL LAHAN PERTANIANNYA]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>TAUFIK HIDAYAT/2495033</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penulis</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Achadiat Dristasto</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>Widya Suryadini</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 2</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Teknik Planologi]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[FTSP]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2001]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[0]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[en]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[English]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Kota-kota besar termasuk Kota Bandung yang selama ini menjadi pusat kegiatan sosial ekonomi penduduk mengalami perubahan kegiatan utama. Sebelumnya kegiatan ekonomi suatu leota ditunjang oleh basis ekonomi pertanian yang berlokasi di pinggiran kota, sedangkan kegiatan industri yang relatif belum terlalu berkembang masih menempati daerah inti kota. Namun seiring dengan perkembangan ekonomi dan tingkat urbanisasi yang pesat, daerah inti kota cenderung berkembang ke sektor pelayanan dan jasa sehingga perkembangan industri dan perumahan mulai mengarah ke daerah pinggiran yang selama ini menjadi daerah pertanian. Keadaan seperti ini pada gilirannya akan menyebabkan terjadinya alih guna lahan pertanian ke kegiatan non pertanian. Bila diperhatikan, kondisi rumah tangga di Kabupaten Bandung mayoritas adalah rumah tangga pertanian. Sehingga apabila alih guna lahan pertanian ini dibiarkan begitu saja tanpa ada suatu usaha untuk mengendalikannya akan menyangkut nasib rumah tangga mayoritas tersebut. Alih guna lahan pertanian pun apabila tidak dikendalikan dapat mengancam usaha mempertahankan swasembada pangan. Selain itu, pemborosan investasi untuk pembangunan sawah irigasi teknis yang pada akhirnya dialihkan penggunaannya menjadi kegiatan non pertanian merupakan hal yang merugikan bagi pemerintah. Pengendalian alih guna lahan ini pun bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah, karena pemerintah pun telah mengeluarkan peraturan-peraturan yang berupa larangan alih guna lahan pertanian yaitu Keppres No.53 tahun 1989 tentang kawasan industri dan Surat Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas kepada Menteri Agraria/Kepala BPN No.533/MK/1994 tanggal 29 September 1994 tentang perubahan penggunaan tanah sawah beririgasi teknis untuk penggunaan tanah non pertanian. Tetapi tetap saja terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap peraturan yang telah dikeluarkan tersebut. Usaha yang memungkinkan untuk mengendalikan atau mencegah terjadinya alih guna lahan pertanian yaitu dengan pendekatan terhadap pihak internal alih guna lahan pertanian yaitu petani pemilik lahan. Hal ini menjadi pertimbangan karena petani pemilik lahan merupakan pihak yang terlibat langsung dalam proses alih guna lahan pertanian. Berdasarkan hasil yang telah dicapai dalam studi ini dengan menggunakan metoda Tabulasi Silang (Cross Tabulation) diketahui bahwafaktor pendidikan, persepsi petani terhadap pekerjaan di sektor pertanian dan produktivitas lahan pertanian merupakan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan keputusan pet ani pemilik untuk menjual/tidak menjual lahan pertaniannya. Pendidikan yang tinggi memberikan wawasan dan keahlian lain selain bertani sehingga petani pemilik lahan akan menjual lahan pertaniannya dan ber/alih profesi ke sektor non pertanian. Petani yang menganggap bahwa bertani bukanlah pekerjaan yang menarik akan menjual lahan pertaniannya, dan petani yang memiliki lahan dengan produktivitas yang rendah akan menjual lahan pertaniannya karena hasil yang didapatkan sedikit dan tidak sebanding dengan biaya produksi pertanian selama satu musim tanam. Faktor-faktor tersebut berguna dalam usaha pengendalian ataupun pencegahan alih guna lahan pertanian ke kegiatan non pertanian dilihat dari pelaku internal dalam hal ini petani pemilik lahan pertanian.</note>
<classification><![CDATA[]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[20011027]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Open Source ETD System]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[070PL/01]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[070PL/01]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[070PL/01]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="19814" url="" path="/2495033_070PL-01.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUTUSAN PET ANI PEMILIK LAHAN UNTUK MENJUAL/TIDAK MENJUAL LAHAN PERTANIANNYA]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[18232]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-03-27 10:10:20]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-03-27 10:10:35]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>