<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" ID="18309">
<titleInfo>
<title><![CDATA[IDENTIFIKASI TINGKAT KESENJANGAN ANTAR KABUPATEN&#47;KOTA DI PROVINSI BANTEN]]></title>
</titleInfo>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>AKHMAD SETIOBUDI</namePart>
<role><roleTerm type="text">Dosen Pembimbing 1</roleTerm></role>
</name>
<name type="Personal Name" authority="">
<namePart>MUHAMMAD FAJRIN/242007019</namePart>
<role><roleTerm type="text">Penulis</roleTerm></role>
</name>
<typeOfResource manuscript="yes" collection="yes"><![CDATA[mixed material]]></typeOfResource>
<genre authority="marcgt"><![CDATA[bibliography]]></genre>
<originInfo>
<place><placeTerm type="text"><![CDATA[Teknik Planologi]]></placeTerm></place>
<publisher><![CDATA[FTSP]]></publisher>
<dateIssued><![CDATA[2012]]></dateIssued>
<issuance><![CDATA[monographic]]></issuance>
<edition><![CDATA[0]]></edition>
</originInfo>
<language>
<languageTerm type="code"><![CDATA[en]]></languageTerm>
<languageTerm type="text"><![CDATA[English]]></languageTerm>
</language>
<physicalDescription>
<form authority="gmd"><![CDATA[Text]]></form>
<extent><![CDATA[]]></extent>
</physicalDescription>
<note>Tingkat kesenjangan merupakan dampak dari ketidak merataan satu daerah dengan daerah lamnya. Dimana daerah pertama mempunyai nilai yang tmggi, daerah Jamnya mempunyai  nilai yang  rendah   Langkah  awal  untuk  meminimalislr  kesenjangan  tersebut perlu digunakan a/at ana/isis yang sesuai. A/at ana/isis yang d1gunakan pada penelitian ini menggunakan lndeks Williamson, dan Indeks Pembangunan Manusia (/PM). Kegunaan dua variabel 1ersebut umuk  melihat kesenjangan  pendapatan yang dl jelaskan o/eh indeks williamson, dan kesenjangan pembangunan yang dijelaskan oleh mlai IPM  Sehingga b1sa diperoleh pola, kategorisasi, dan faktor yang cenderung kurang berkembang. Dalam penelitlan ini, untuk melihat identtflkasi kesenjangan di provinsi banten, menggzmakan  metode  ana/isis  stalistik   deskriptif   yang   terdiri  dari  indeks   williamson, formulasi  standar deviasi dan koefisien  variasi, analisis  tipologi klassen  berdasarkan  nilai dan laju IPM dan komponennya, serta analisis korelasi untuk melihat faktor yang cenderung kurang berkembang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa nilai indeks williamson provinsi  Banten  timpang  pada tahun 2002-2006, dengan nilai 0,65 - 0,66 - 0,67.  Nilai tersebut merupakan gambaran provinsi Banten  berada di limpangan yang tmggz. dengan nilai timpang yang tinggi pada tahun 2008, mencapai 0,84 (hampir mencapai mlai I).Untuk melihat nilai berdasarkan IPM dan komponennya  dilakulcan dengan  standar dewas1 serta koefisien vanasi.  pola kesen;angan pembangunan di provinsi banten pada tahun 2002-2010 cenderung  konvergen  (menurun)  dan  berada  pada  tmgkatan  nilai yang rendah. Kondisi tersebut mendesknpsikan bahwa kondisi kesenjangan pembangunan antardaerah di provinsi Banten cenderung  sama pada tingkatan menengah.  Berdasarkan anahsis llpologi  Klassen. di Provinsi Banten terdapat 4 tipe daerah, yaitu Daerah Ma;u. Potensial, Berkembang, dan Tertinggal.  Secara  spasial daerah  dengan  kategori  maju  dan  potensial  selalu  berada  di wilayah  utara, daerah  tersebut  termasuk  Perkotaan  Tangerang(termasuk  kab. kota,  dan Tang. Selatan),  dan cilegon. Dimana kedua daerah  tersebut merupakan  pusat kegiatan di provinsi. Sedangkan daerah dengan wilayah luas di bagian selatan, diantaranya kab. Lebak, dan  Pandeglang  se/a/u  berada  di  kategori  daerah  berkembang  dan  tertinggal.  Padahal kedua wilayah tersebut mempunyai  potensi kekayaan daerah. Kebijakan pemerintah belum berpihak terhadap kesenjangan pembangunan masyarakat lokal. Untuk meminimalisir kesenjangan di daerah berkembang dan tertinggal, maka diperlukan anallsis korelasi untuk melihat  faktor mana saja yang mendorong komponen IPM  Ice arah larang berkembang. Berdasarkan analisis korelasi terdapat faktor sarana pendidikan, kemiskinan, PDRB perkapita, sarana pendidikan, sarana kesehatan, serta tenaga kesehatan. Pemerintah  Provinsi Banten harus memberikan prioritas utama terhadap daerah dengan kategorisasi berkembang dan tertinggal, dengan melihat faktor yang akan dikembangkan sarana pendidikan, kemiskinan, PDRB per/capita, sarana pendidikan, sarana kesehalan, serra tenaga kesehatan, karena faktor tersebut secara lidak langsung pembentuk nilai IPM dan komponennya.</note>
<classification><![CDATA[]]></classification><identifier type="isbn"><![CDATA[20120814]]></identifier><location>
<physicalLocation><![CDATA[Setiadi Open Source ETD System]]></physicalLocation>
<shelfLocator><![CDATA[459PL/12]]></shelfLocator>
<holdingSimple>
<copyInformation>
<numerationAndChronology type="1"><![CDATA[459PL/12]]></numerationAndChronology>
<sublocation><![CDATA[]]></sublocation>
<shelfLocator><![CDATA[459PL/12]]></shelfLocator>
</copyInformation>
</holdingSimple>
</location>
<slims:digitals>
<slims:digital_item id="19895" url="" path="/242007019_459PL-12.pdf" mimetype="application/pdf"><![CDATA[IDENTIFIKASI TINGKAT KESENJANGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BANTEN]]></slims:digital_item>
</slims:digitals><recordInfo>
<recordIdentifier><![CDATA[18309]]></recordIdentifier>
<recordCreationDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-04-19 09:30:28]]></recordCreationDate>
<recordChangeDate encoding="w3cdtf"><![CDATA[2024-04-19 09:30:42]]></recordChangeDate>
<recordOrigin><![CDATA[machine generated]]></recordOrigin>
</recordInfo></mods></modsCollection>