IDENTIFIKASI TINGKAT KESENJANGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BANTEN
Tingkat kesenjangan merupakan dampak dari ketidak merataan satu daerah dengan daerah lamnya. Dimana daerah pertama mempunyai nilai yang tmggi, daerah Jamnya mempunyai nilai yang rendah Langkah awal untuk meminimalislr kesenjangan tersebut perlu digunakan a/at ana/isis yang sesuai. A/at ana/isis yang d1gunakan pada penelitian ini menggunakan lndeks Williamson, dan Indeks Pembangunan Manusia (/PM). Kegunaan dua variabel 1ersebut umuk melihat kesenjangan pendapatan yang dl jelaskan o/eh indeks williamson, dan kesenjangan pembangunan yang dijelaskan oleh mlai IPM Sehingga b1sa diperoleh pola, kategorisasi, dan faktor yang cenderung kurang berkembang. Dalam penelitlan ini, untuk melihat identtflkasi kesenjangan di provinsi banten, menggzmakan metode ana/isis stalistik deskriptif yang terdiri dari indeks williamson, formulasi standar deviasi dan koefisien variasi, analisis tipologi klassen berdasarkan nilai dan laju IPM dan komponennya, serta analisis korelasi untuk melihat faktor yang cenderung kurang berkembang. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa nilai indeks williamson provinsi Banten timpang pada tahun 2002-2006, dengan nilai 0,65 - 0,66 - 0,67. Nilai tersebut merupakan gambaran provinsi Banten berada di limpangan yang tmggz. dengan nilai timpang yang tinggi pada tahun 2008, mencapai 0,84 (hampir mencapai mlai I).Untuk melihat nilai berdasarkan IPM dan komponennya dilakulcan dengan standar dewas1 serta koefisien vanasi. pola kesen;angan pembangunan di provinsi banten pada tahun 2002-2010 cenderung konvergen (menurun) dan berada pada tmgkatan nilai yang rendah. Kondisi tersebut mendesknpsikan bahwa kondisi kesenjangan pembangunan antardaerah di provinsi Banten cenderung sama pada tingkatan menengah. Berdasarkan anahsis llpologi Klassen. di Provinsi Banten terdapat 4 tipe daerah, yaitu Daerah Ma;u. Potensial, Berkembang, dan Tertinggal. Secara spasial daerah dengan kategori maju dan potensial selalu berada di wilayah utara, daerah tersebut termasuk Perkotaan Tangerang(termasuk kab. kota, dan Tang. Selatan), dan cilegon. Dimana kedua daerah tersebut merupakan pusat kegiatan di provinsi. Sedangkan daerah dengan wilayah luas di bagian selatan, diantaranya kab. Lebak, dan Pandeglang se/a/u berada di kategori daerah berkembang dan tertinggal. Padahal kedua wilayah tersebut mempunyai potensi kekayaan daerah. Kebijakan pemerintah belum berpihak terhadap kesenjangan pembangunan masyarakat lokal. Untuk meminimalisir kesenjangan di daerah berkembang dan tertinggal, maka diperlukan anallsis korelasi untuk melihat faktor mana saja yang mendorong komponen IPM Ice arah larang berkembang. Berdasarkan analisis korelasi terdapat faktor sarana pendidikan, kemiskinan, PDRB perkapita, sarana pendidikan, sarana kesehatan, serta tenaga kesehatan. Pemerintah Provinsi Banten harus memberikan prioritas utama terhadap daerah dengan kategorisasi berkembang dan tertinggal, dengan melihat faktor yang akan dikembangkan sarana pendidikan, kemiskinan, PDRB per/capita, sarana pendidikan, sarana kesehalan, serra tenaga kesehatan, karena faktor tersebut secara lidak langsung pembentuk nilai IPM dan komponennya.
Detail Information
Bagian
Informasi
Pengarang
MUHAMMAD FAJRIN/242007019 - Personal NameAKHMAD SETIOBUDI - Personal Name
No. Panggil
459PL/12
Subyek
Fakultas
FTSP
Tahun Terbit
2012
Jurusan
Teknik Planologi
Deskripsi Fisik
Info Detil Spesifik
Citation
APA Style
. (2012).IDENTIFIKASI TINGKAT KESENJANGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BANTEN ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.IDENTIFIKASI TINGKAT KESENJANGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BANTEN ().Teknik Planologi:FTSP,2012.Text
MLA Style
.IDENTIFIKASI TINGKAT KESENJANGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BANTEN ().Teknik Planologi:FTSP,2012.Text
Turabian Style
.IDENTIFIKASI TINGKAT KESENJANGAN ANTAR KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI BANTEN ().Teknik Planologi:FTSP,2012.Text