// <![CDATA[PENERAPAN DESAIN BIOPHLIC PADA TERMINAL TERPADU LEUWIPANJANG, KOTA BANDUNG]]> Eggi Septianto, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 1 Nur Laela Latifah, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 Muhammad Bimo Eqyantoro / 212014041 Penulis
Perkembangan transportasi dipengaruhi oleh pertambahan penduduk. Semakin bertambahnya jumlah penduduk, semakin meningkat pula kebutuhan transportasinya. Salah satu alat transportasi darat antar kota yang diminati oleh seluruh lapisan masyarakat adalah Bus. Sebagai sebuah transportasi massal, yang mampu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah banyak serta murah, Bus menjadi salah satu pilihan alternatif transportasi darat. Berkaitan dengan hal tersebut, maka dibutuhkan perencanaan tentang keberadaan Terminal Terpadu di kota bandung. Terminal leuwipanjang berdiri di lahan seluas 3,8 hektar sejak beroperasi Terminal Leuwipanjang tidak banyak mengalami perombakan yang besar. Perombakan yang dilakukan yakni dengan menambah jalur antrean dari 15 jalur menjadi 19 jalur. Selain itu Terminal Leuwipanjang melakukan perbaikan fasilitas-fasilitas umum seperti toilet, mushola, kios oleh-oleh dan lain-lain untuk kenyamanan calon penumpang. Namun tahun 2017 Terminal Leuwipanjang direncanakan akan direnovasi total seiring dengan diberlakukan Transit Oriented Development (TOD) atau Manajemen Lalu Lintas. Tema Biophilik diambil dan diterapkan pada rancangan terminal bus terpadu memiliki tujuan untuk menghasilkan suatu ruang yang dapat berpartisipasi dalam peningkatan kesejahteraan hidup manusia secara fisik dan mental dengan membina hubungan positif antara manusia dan alam. Perancangan bangunan menerapkan prinsip-prinsip desain biophilik di antaranya hubungan dengan alam secara visual, variasi pergantian udara, hadirnya unsur air, pemanfaatan cahaya alami, dan bentukan dinamis. Penerapan prinsip desain ini di realisasikan dengan merancang bentuk bangunan, denah, peletakan ruang, pemilihan material, dan bagian dari bangunan lainnya.