// <![CDATA[SEKOLAH ANAK JALANAN DI BANDUNG.]]> SUTISNA / 21.2003.084 / AR Dosen Pembimbing 1 Ir. Meta Riany, MT. Dosen Pembimbing 2 Ir. Dassa Sudana. Dosen Pembimbing 1
Secara tidak disadari, pengembangan dunia Arsitektur Indonesia dalam beberapa kasus terkesan egosentrik. Blok apartemen mewah ramai dibangun, padahal kasus penggusuran tanah orang kecil tidak kian surut. Meski tidak ada kaitan langsung, namun keduanya terjadi dalam ruang kota yang sama. Belum lagi sebuah mall besar yang dibangun tepat di depan pemukiman informal, semakin mempertebal batas garis kumuh kota. Kecenderungan ini praktis mempersempit spektrum pekerjaan di dunia arsitektur. Pertanyaannya, benarkah skala pelayanan arsitek hanya melingkupi persepsi mengenai langgam atau gaya arsitektur saja? Apakah praktisi bidang ini hanya mengayomi masyarakat dari golongan tertentu? Semuanya melengkapi isu kepincangan fungsi wadah arsitektur untuk peka terhadap konteks yang seharusnya. Sebagai generalisasi dari arsitektur sosial, arsitektur perilaku berpihak kepada ketepatan dan kesesuaian tipologi suatu bangunan terhadap kawasan makro maupun mikro tempat lokasi proyek tersebut dibangun. Dikaitkan dengan konteks negara, bagaimanapun juga, negara Indonesia adalah negara berkembang dengan angka pembengkakan orang miskin yang luar biasa. Pembengkakan akan terus terjadi apabila bibit manusia selalu terjebak dalam situasi yang serba kekurangan, baik sarana pendidikan, hiburan maupun sosial. Kemajuan arus pembangunan dan teknologi di satu sisi menjadi penyebab kesenjangan tatanan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Pemukiman kumuh sebagai peserta yang gagal seleksi dalam ujian antisipasi era modern, menjadi permasalahan kota yang terus meluap. Yang memprihatinkan, di dalamnya tercatat 2/3 di antaranya adalah kaum bibit bangsa, yakni anak-anak yang seharusnya berada pada usia produktif untuk duduk di bangku pendidikan formal. Sebagai kaum sisa, mereka justru membludak ke tempat dan waktu yang tidak seharusnya untuk mencari nafkah. Jalanan dan ruang publik kota menjadi sasaran. Fenomena ini juga dirasa begitu menggeliat di Kota Bandung. Pengamen, anak yang berdagang, serta tunawisma makin menjamuri persimpangan di beberapa sudut kota Bandung. Tercatat dari sumber berbagai pihak, ada 4000–6000 lebih anak jalanan di pusat Kota Bandung. Hipotesa berujung kepada pencarian jalan untuk mewadahi mereka ke dalam wadah yang tepat guna. Maka penyedia wadah kota haruslah lebih peka terhadap tipologi bangunan yang berada pada takaran kepantasan dan mampu mengobati penyakit kemiskinan.