// <![CDATA[EKSTRAKSI MINYAK ULAT HONGKONG MENGGUNAKAN METODE SOXHLETASI DENGAN PELARUT PETROLEUM ETER]]> 0412026704 Dr. Ir. Maya Ramadianti Musadi., MT. Dosen Pembimbing 1 Adrian Satria Kemal / 142020028 Penulis Rietias Sarinastiti Nurmin / 142020046 Penulis
Berkenaan dengan isu pangan global kebutuhan sumber alternatif untuk menggantikan minyak yang dapat dikonsumsi seperti minyak kelapa dan minyak bunga matahari. Lemak hewani seperti lemak babi dan lemak ayam dapat digunakan untuk menghasilkan produk berbasis minyak. Namun, peningkatan permintaan ternak sebagai bahan pangan dan isu-isu tentang produk yang berasal dari hewan menjadi masalah lingkungan. Ulat hongkong sebagai sumber minyak yang potensial, telah menarik minat para peneliti karena kemudahan membudidayakan dan kemampuan ulat hongkong untuk mengakumulasi lemak dengan memakan limbah organik. Penggunaan ulat hongkong sebagai bahan baku biodiesel merupakan pendekatan yang inovatif dan berkelanjutan untuk menjawab tantangan kebutuhan energi dan kelestarian lingkungan. Ulat hongkong mengandung asam lemak bebas yang dapat diolah menjadi biodiesel. Proses produksi biodiesel berbasis ulat hongkong melibatkan ekstraksi asam lemak melalui esterifikasi. Penelitian ini mengkaji pengaruh variasi rasio pelarut petroleum eter dan waktu ekstraksi terhadap yield, bilangan asam dan kandungan air pada minyak ulat hongkong yang dihasilkan. Variasi rasio ulat hongkong dan pelarut yang digunakan adalah 1:6, 1:8, dan 1:10, dengan waktu ekstraksi selama 5, 6, dan 8 jam pada suhu 65°C. Hasil terbaik dari penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan rasio ulat hongkong dan pelarut 1:10 dengan waktu ekstraksi 8 jam menghasilkan yield minyak tertinggi 15% dengan kandungan Free Fatty Acid (FFA) sebesar 6,88%. Ekstraksi menggunakan metode soxhletasi dengan pelarut petroleum eter dapat menurunkan kadar air dari 80% menjadi 0,21%. Kata kunci: FFA, kadar air, petroleum eter, soxhletasi, ulat hongkong.