// <![CDATA[TREN DAN POLA DISTRIBUSI GAS PENCEMAR UDARA DI DKI JAKARTA SERTA POTENSI PENGGUNAAN DATA SATELIT]]> Dr. Eng. Didin Agustian Permadi, S.T., M.Eng. Dosen Pembimbing 1 IRDIANTO RAFANSYAH / 252019006 Penulis
Pencemaran udara merupakan permasalahan lingkungan yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem di perkotaan, terutama di DKI Jakarta yang memiliki tingkat polusi udara tinggi akibat aktivitas transportasi, industri, dan faktor meteorologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren dan pola distribusi gas pencemar udara berupa Nitrogen Oksida (NOx), Sulfur Dioksida (SO₂), dan Karbon Monoksida (CO) di DKI Jakarta dalam rentang waktu 2011-2017. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi potensi penggunaan data satelit Sentinel-5P dalam pemantauan kualitas udara untuk melengkapi data dari Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU). Metodologi penelitian ini mencakup pengolahan data sekunder dari SPKU yang terletak di Bundaran HI, Jagakarsa, dan Lubang Buaya, serta analisis data satelit menggunakan metode regresi linier sederhana untuk melihat hubungan antara data pengukuran langsung dengan data penginderaan jauh. Distribusi temporal dianalisis melalui pola harian, bulanan, dan tahunan, sementara distribusi spasial dianalisis dengan pemetaan menggunakan perangkat lunak GIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren konsentrasi NOx mengalami peningkatan signifikan pada periode 2013-2015, yang diduga berkaitan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dan aktivitas konstruksi skala besar di Jakarta. Sementara itu, SO₂ dan CO memiliki pola fluktuatif yang dipengaruhi oleh sumber emisi, kondisi meteorologi, serta arah angin dominan. Perbandingan antara data SPKU dan data satelit Sentinel-5P menunjukkan bahwa satelit dapat menangkap pola pencemaran udara secara luas, meskipun terdapat perbedaan resolusi spasial yang menyebabkan variasi nilai konsentrasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan data satelit berpotensi menjadi alat pemantauan kualitas udara yang lebih komprehensif, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan stasiun pemantauan udara. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengambil kebijakan dalam pengendalian pencemaran udara dan pengembangan sistem pemantauan kualitas udara berbasis satelit di Indonesia.