// <![CDATA[ANALISIS KONTINGENSI DENGAN MULTIPLE OUTAGES N-2 PADA SISTEM JARINGAN 150KV SUBSISTEM BANDUNG SELATAN]]> 0404037202 - Ratna Susana, M.T. Dosen Pembimbing 2 Dini Fauziah, S.Pd., M.T. Dosen Pembimbing 1 TIARA ADINDA WULANDARI SIHITE / 112021042 Penulis
Sistem tenaga listrik merupakan infrastruktur krusial yang harus mampu mempertahankan kestabilan tegangan selama kondisi operasi normal maupun saat terjadi gangguan. Subsistem Bandung Selatan 500/150 kV menjadi salah satu jalur transmisi utama yang menyalurkan daya dari PLTA Saguling dan Cirata ke berbagai gardu induk strategis di wilayah Jawa Barat. Mengingat pentingnya fungsi sistem ini, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dampak gangguan ganda (kontingensi N-2) terhadap kestabilan tegangan serta efektivitas manuver beban sebagai solusi pemulihan sistem. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak ETAP 19.0.1 dengan metode analisis aliran daya yang digunakan yaitu metode Newton-Raphson. Data yang digunakan meliputi single line diagram, rating trafo interbus, data penghantar, serta beban puncak pada 12 Mei 2025 pukul 19.00 WIB. Analisis mencakup kondisi normal, kontingensi N-2, dan kondisi setelah manuver beban dengan parameter profil tegangan bus, arus saluran, pembebanan trafo, dan faktor daya sistem. Hasil simulasi pada kondisi beban puncak menunjukkan bahwa tegangan sistem masih sesuai standar PLN (>90%), dengan pembebanan penghantar tertinggi pada saluran Cikasungka–Rancaekek sebesar 64,9% dan Kiaracondong–Gedebage sebesar 60,3%. Pada sisi trafo, indeks kesehatan berdasarkan SKDIR No. 17 Tahun 2014 masuk dalam kategori kurang, sehingga diperlukan pemeliharaan rutin. Pada kondisi kontingensi N-2 yaitu melepas pengahntar Cikasungka I – Rancaekek dan Kiaracondong II – Gede Bage II ada beberapa bus seperti Ujungberung, Dago Pakar, dan Bandung Utara mengalami penurunan tegangan <90%. Pembebanan penghantar juga meningkat signifikan, dengan salah satu penghantar yang masih terhubung menanggung beban tertinggi sehingga berpotensi mendekati batas operasi. Setelah dilakukan manuver beban dengan melepas Trafo 3 GI Bandung Utara pada tahap 1 dan trafo 1 GI Bandung Utara, profil tegangan bus kembali >90% dan distribusi daya lebih merata, sehingga sistem kembali stabil. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kontingensi N-2 dapat menurunkan tegangan dan meningkatkan risiko overload pada penghantar maupun trafo. Namun, strategi manuver beban terbukti efektif dalam menjaga keandalan sistem serta dapat dijadikan acuan dalam perencanaan operasi dan pemeliharaan.