RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) PLAN FOR TURBOGENERATOR
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) memiliki peran vital dalam penyediaan energi listrik. Turbogenerator sebagai komponen inti berfungsi mengkonversi energi mekanis menjadi energi listrik, sehingga tingkat keandalan turbogenerator sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan operasi PLTA. Gangguan yang ditimbulkan akibat keausan, kesalahan pengoperasian, maupun kurangnya perawatan dapat menimbulkan downtime serta kerugian ekonomi. Untuk mengurangi risiko tersebut, digunakan metode Reliability Centered Maintenance (RCM) dengan analisis Failure Mode, Effects, and Criticality Analysis (FMECA) sebagai pendekatan dalam menjaga keandalan dan efisiensi sistem.
Analisis nilai failure rate dilakukan dengan mengacu pada jumlah kegagalan komponen turbogenerator terpilih. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi kerusakan, maka semakin rendah nilai Mean Time Between Failure (MTBF) yang diperoleh. Artinya, komponen yang sering mengalami kegagalan memiliki selang waktu antar kerusakan yang lebih pendek. Nilai MTBF tertinggi terdapat pada komponen electronic device sebesar 2/years, sedangkan nilai terendah dimiliki oleh spring holder & carbon brush sebesar 0,41/years. Data ini kemudian digunakan sebagai dasar dalam pembobotan occurance.
Perhitungan Risk Priority Number (RPN) dilakukan dengan dua model, yaitu RPN1 dan RPN2. RPN1 ditentukan dari kombinasi failure rate, MTBF, serta bobot severity, occurance, dan detection. Adapun RPN2 dihitung dengan tambahan parameter repair time. Penilaian severity didasarkan pada asumsi mode kegagalan, occurance diambil dari evaluasi failure rate dan MTBF, sementara detectability dan repair time ditentukan melalui perkiraan. Berdasarkan hasil analisis, rotor & stator teridentifikasi sebagai komponen paling kritis dengan nilai RPN1 sebesar 400 dan RPN2 sebesar 3200, sedangkan electronic device menjadi komponen dengan risiko terendah, yakni RPN1 sebesar 96 dan RPN2 sebesar 192.
Dari hasil tersebut, strategi pemeliharaan kemudian disusun dengan memfokuskan pada komponen berisiko tinggi. Strategi yang dirancang bertujuan untuk meningkatkan keandalan, mencegah kerusakan berulang, serta mengoptimalkan biaya dan waktu pemeliharaan. Metode yang digunakan meliputi visual maintenance, preventive maintenance, dan condition monitoring, dengan corrective maintenance sebagai langkah tambahan apabila ditemukan penyimpangan dalam proses pemeliharaan. Melalui penerapan strategi ini, kinerja PLTA diharapkan dapat terjaga secara lebih andal, efektif, dan efisien.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2025).RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) PLAN FOR TURBOGENERATOR ().Teknik Mesin:FTI
Chicago Style
.RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) PLAN FOR TURBOGENERATOR ().Teknik Mesin:FTI,2025.Text
MLA Style
.RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) PLAN FOR TURBOGENERATOR ().Teknik Mesin:FTI,2025.Text
Turabian Style
.RELIABILITY CENTERED MAINTENANCE (RCM) PLAN FOR TURBOGENERATOR ().Teknik Mesin:FTI,2025.Text