// <![CDATA[EFEKTIVITAS PENGGUNAAN EFFECTIVE MICROORGANISM (EM-4) DAN NUTRIENT UNTUK MENINGKATKAN KINERJA UNIT ANAEROBIC BUFFLED REACTOR (ABR) DAN ANAEROBIC FILTER PADA IPAL DOMESTIK DI RW 08 PASIR KALIKI KOTA CIMAHI]]> Dr. Moh. Rangga Sururi, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 1 MOCH REIHAN DASTIN R / 252019017 Penulis
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik di Kota Cimahi dengan memanfaatkan pengolahan biologi yaitu bak Anaerobic Baffled Reactor (ABR) dan Anaerobic Filter (AF). Upaya peningkatan kinerja dilakukan melalui penambahan Effective Microorganisms (EM-4) serta pemberian nutrisi tambahan, dengan fokus pada penyisihan parameter pencemar Chemical Oxygen Demand (COD), Total Suspended Solid (TSS), dan Amoniak. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel air limbah dari unit inlet dan outlet IPAL, pengukuran parameter kualitas air, serta analisis efektivitas penyisihan menggunakan pendekatan statistik. Penelitian menunjukkan bahwa pada Skenario 1 (pembubuhan EM-4), efisiensi penyisihan COD meningkat dari 13% hingga 58%, sedangkan TSS berfluktuasi antara 34–49%. Peningkatan efisiensi ini sejalan dengan kenaikan konsentrasi MLSS pada unit bak ABR sebesar 2824,67 mg/L sampai dengan 3381,33 mg/L dan pada bak anaerobik filter sebesar 2406 sampai dengan 3456,67 mg/L. Pada Skenario 2 (pembubuhan nutrisi), efisiensi penyisihan COD justru menurun hingga 11% dan TSS berkisar 36–42%. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan signifikan MLSS baik pada bak ABR sebesar 3454,67 mg/L sampai dengan 2676 mg/L maupun bak anaerobik filter sebesar 3975,33 mg/L sampai dengan 2011,33 mg/L, yang meningkatkan nilai rasio food / microorganism (F/M) dan berpotensi menimbulkan sludge bulking. Sementara itu, pada Skenario 3 (kombinasi EM-4 dan nutrisi), efisiensi COD dan TSS cenderung fluktuatif dengan COD berkisar 30–67% dan TSS 15–52%. Penurunan MLSS pada bak ABR sebesar 4138 mg/L sampai dengan 3822,67 mg/L dan bak anaerobik filter sebesar 4914 mg/L sampai dengan 4321,33 mg/L. Hal tersebut menyebabkan nilai F/M tidak stabil, sehingga kinerja penyisihan tidak konsisten. Faktor lain yang mempengaruhi efisiensi penyisihan parameter COD dan TSS yaitu waktu detensi yang terlalu singkat menyebabkan proses pengolahan tidak berjalan optimal.