// <![CDATA[DETEKSI PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PESISIR KABUPATEN KARAWANG BERBASIS METODE RANDOM FOREST DAN DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM MENGGUNAKAN DATA SENTINEL-1 DAN SENTINEL-2 (TAHUN 2020−2024]]> 0407096502 - Dr. Dewi Kania Sari, Ir., M.T. Dosen Pembimbing 1 Johanes Bintang Parulian / 232021015 Penulis
Pesisir utara Kabupaten Karawang merupakan wilayah dinamis yang rentan terhadap perubahan garis pantai akibat faktor alam dan aktivitas manusia. Perubahan ini menimbulkan risiko bagi lingkungan serta masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju dan pola perubahan garis pantai dengan membandingkan dua sensor satelit, Sentinel-1 dan Sentinel-2, sehingga diperoleh gambaran komprehensif mengenai dinamika pesisir. Analisis dilakukan pada sembilan kecamatan pesisir dengan citra Sentinel-1 (radar) dan Sentinel-2 (optik) periode 2020 dan 2024. Algoritma Random Forest digunakan untuk mengklasifikasikan daratan dan perairan, dengan Sentinel-1 berbasis nilai backscatter VV dan Sentinel-2 menggunakan NDWI. Laju perubahan garis pantai dihitung menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS). Hasil menunjukkan perbedaan signifikan. Data Sentinel-2 mengindikasikan tren akresi dominan dengan laju rata-rata +38.76 m/tahun dan akresi tertinggi +198.49 m/tahun di Kecamatan Cilebar. Sebaliknya, Sentinel-1 menampilkan tren abrasi dominan dengan laju rata-rata -0.02 m/tahun serta abrasi ekstrem -89.92 m/tahun di Kecamatan Pakis Jaya. Meski berbeda tren, keduanya konsisten mengidentifikasi Pedes, Cilebar, Tempuran, dan Cilamaya Wetan sebagai zona akresi stabil. Perbedaan ini menegaskan bahwa karakteristik sensor dan periode akuisisi citra sangat berpengaruh terhadap hasil analisis garis pantai. Temuan penelitian memberikan informasi mengenai wilayah rentan seperti Pakis Jaya serta wilayah stabil seperti Cilebar dan Pedes, yang bermanfaat dalam mendukung perencanaan ruang dan mitigasi bencana pesisir. The northern coast of Karawang Regency is a dynamic area that is highly vulnerable to shoreline changes caused by both natural factors and human activities. These changes pose significant risks to the environment and coastal communities. This study aims to analyze the rate and pattern of shoreline change by comparing two satellite sensors, Sentinel-1 and Sentinel-2, in order to provide a comprehensive understanding of coastal dynamics. The analysis was conducted in nine coastal sub-districts using Sentinel-1 (radar) and Sentinel-2 (optical) imagery from 2020 and 2024. The Random Forest algorithm was applied to classify land and water, with Sentinel-1 utilizing VV backscatter values and Sentinel-2 using the Normalized Difference Water Index (NDWI). Shoreline change rates were calculated using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS). The results revealed significant differences between the two datasets. Sentinel-2 indicated a dominant accretion trend with an average rate of +38.76 m/year and the highest accretion of +198.49 m/year in Cilebar Sub-district. In contrast, Sentinel-1 showed a dominant erosion trend with an average rate of -0.02 m/year and the most extreme erosion of -89.92 m/year in Pakis Jaya Sub-district. Despite these contrasting trends, both datasets consistently identified Pedes, Cilebar, Tempuran, and Cilamaya Wetan as stable accretion zones. These differences highlight the strong influence of sensor characteristics and image acquisition periods on shoreline change analysis. The findings provide valuable information on vulnerable areas such as Pakis Jaya and stable zones such as Cilebar and Pedes, which can support coastal spatial planning and disaster mitigation efforts in Karawang Regency.