// <![CDATA[ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI KABUPATEN CIREBON MENGGUNAKAN CITRA SENTINEL 2A]]> 0410038206 - Thonas Indra Maryanto, S.Kel., M.T. Dosen Pembimbing 1 Akbar Muhammad Aflah Kusnadi / (23-2021-069) Penulis
Kabupaten Cirebon, sebagai wilayah pesisir di Provinsi Jawa Barat, mengalami perubahan garis pantai yang signifikan akibat interaksi antara proses alami dan aktivitas manusia. Penelitian ini menganalisis perubahan garis pantai di delapan kecamatan pesisir Kabupaten Cirebon selama periode 2019 dan 2024, menggunakan data citra satelit Sentinel-2A yang diproses dengan algoritma bilko untuk delineasi batas darat dan perairan. Perubahan garis pantai dihitung menggunakan aplikasi Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan metode Net Shoreline Movement (NSM) dan End Point Rate (EPR) dengan transek 100 meter. Hasil menunjukkan dinamika perubahan yang bervariasi, dengan akresi dominan di Kecamatan Losari (33,62% dari total akresi), Pangenan (17,69%), dan Kapetakan (17,44%). Sebaliknya, abrasi signifikan terjadi di Kecamatan Losari (39% dari total abrasi) dan Gebang (29,26%), sementara Kecamatan Gunung Jati tidak mengalami abrasi. Temuan ini mencerminkan kompleksitas perubahan garis pantai yang dipengaruhi oleh dinamika sedimen, muara sungai, serta aktivitas reklamasi. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar informasi penting untuk pengelolaan wilayah pesisir dan mitigasi dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem pantai di Kabupaten Cirebon. Cirebon Regency, as a coastal area in West Java Province, experiences significant changes in its coastline due to the interaction between natural processes and human activities. This study analyzes the changes in the coastline across eight coastal districts in Cirebon Regency from 2019 to 2024, utilizing Sentinel-2A satellite imagery processed with the bilko algorithm for delineating land and water boundaries. Changes in the coastline were calculated using the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) application with the Net Shoreline Movement (NSM) and End Point Rate (EPR) methods, employing a 100-meter transect. The results indicate varying dynamics of change, with accretion dominating in Losari District (33.62% of total accretion), followed by Pangenan (17.69%) and Kapetakan (17.44%). Conversely, significant erosion occurred in Losari District (39% of total erosion) and Gebang (29.26%), while Gunung Jati District showed no erosion (0.00%). These findings reflect the complexity of coastline changes influenced by sediment dynamics, river mouth presence, and potential reclamation activities. This study is expected to provide crucial information for coastal management and mitigation of the impacts of human activities on the coastal ecosystem in Cirebon Regency.