// <![CDATA[ANALISIS DEVIASI VOLUME PENGUKURAN SURVEY TERESTIS DENGAN BASE MODEL INSITU (Studi Kasus :]]> 0422066701 - Moch. Abdul Basyid Ir., M.T. Dosen Pembimbing 1 Sofatullah Inzagi AT / 23-2024-638 Penulis
Pengukuran volume material tambang merupakan bagian penting dalam operasional tambang terbuka. Namun, dalam praktiknya sering ditemukan perbedaan volume antara hasil pengukuran langsung di lapangan survey terestis dengan model teoritis yang telah dibuat sebelumnya base model insitu. Perbedaan ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian data produksi dan berpotensi menimbulkan kerugian secara teknis maupun finansial. Penelitian ini membandingkan dua metode utama dalam pengukuran volume tambang: survey terestis, yang dilakukan secara langsung menggunakan alat ukur seperti total station dan dikenal memiliki akurasi tinggi pada kondisi aktual namun memerlukan waktu dan tenaga lebih besar; serta base model insitu, yang dibangun dari data awal seperti lidar dan pengeboran, efisien untuk estimasi jangka panjang namun rentan terhadap kesalahan asumsi awal atau data geologi yang tidak akurat. Hasil pengujian paired samples test untuk perbandingan total volume survey terestis dan volume base model insitu didaptkan nilai selisih rata-rata -3,160 BCM yang menunjukan hasil dari survey terestis sedikit lebih rendah dibandingkan volume base model, serta nilai signifikasi sebesar 0,322 yang menunjukan lebih besar dari nilai minimum 0,05 yang dapat disimpulkan perbedaan dari total volume ini tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Dapat dilihat dari persebaran volume tiap bulannya terdapat anomali pada volume coal dibulan september yang dimana perbedaannya cukup signifikan tetapi bukan rata-rata dari tiap bulannya, hal ini dikarenakan volume yang dihitung dari aktual pengukuran tidak sesuai dengan model batu bara yang sudah dibuat sebelumnya, batu bara pada aktual pengambilan data dilapangan pada areanya tidak ada persebaran batu bara yang menerus pada area tersebut tetapi dimodel terdapat batu bara pada areanya, hal ini menunjukan kekeliruan dalam penggunaan situasi lidar yang digunakan untuk memodelkan batu bara tidak sesuai dengan kondisi dilalapangan karena terdapat perbedaan elevasi atau koordinat dari sebaran batu bara yang ada. Measuring the volume of mining materials is a crucial component of openpit mining operations. However, in practice, discrepancies are often found between the results of direct measurements in terrestrial survey fields and the theoretical models that have been previously developed based on in-situ models. These discrepancies can lead to misalignments in production data and may potentially result in both technical and financial losses. This study compares two main methods for measuring mine volume: terrestrial surveying, which is conducted directly using measuring instruments such as total stations and is known to have high accuracy under actual conditions, although it requires more time and effort; and the insitu base model, which is constructed from initial data such as LIDAR and drilling, efficient for long-term estimations but vulnerable to errors from initial assumptions or inaccurate geological data. The results of the paired samples test for comparing the total volume of the terrestrial survey with the insitu base model volume revealed an average difference value of -3.160 BCM, indicating that the results of the terrestrial survey are slightly lower than the base model volume. Moreover, a significant value of 0.322 indicates that it is greater than the minimum value of 0.05, leading to the conclusion that the difference in this total volume is not have a statistically significant. It can be observed from the distribution of the volume each month that there is an anomaly in the coal volume in September, where the difference is quite significant, but not in the average of each month. This is because the volume calculated from the actual measurement does not match the coal model that was created previously. In the actual data collection in the field, the area has no continuous coal distribution; however, in the model, coal exists in that area. This indicates an error in the application of the lidar situation used to model coal, which does not correspond to the conditions in the field due to differences in elevation or coordinates of the existing coal distribution.