// <![CDATA[PUSAT ANGKLUNG DI BANDUNG.]]> MIKE FAJAR WIJAYANTI / 21.2004.030 / AR Dosen Pembimbing 1 Ir. Dassa Sudana Ir. Meta Riany, MT.
Bandung, kota yang memiliki jati diri sebagai sebuah kota yang berdiri di tanah priangan atau yang tumbuh hidup dengan seni dan budaya sunda, memiliki berbagai kekayaan seni dan budaya yang sangat beragam. Sejarah mengenai tanah sunda itu sendiri jarang diketahui oleh masyarakat terutama generasi muda saat ini yang lebih terinvasi oleh kebanggaan budaya barat yang semakin tak terbendung. Keberadaan sejarah sunda baik secara khusus maupuan global, penting diketahui agar peradaban budaya sunda tidak punah. Berdasarkan fungsinya maka Pusat Angklung Di Bandung akan sesuai bila diletakkan pada kawasan pusat kota, dimana suasananya harus nyaman serta memiliki nilai tersendiri dalam pengertian merupakan sebuah lahan yang unik, spesifik dan mudah dikenali masyarakat. Maka berdasarkan pertimbangan tersebut dipilihlah jl. Ir.H.Djuanda sebagai penempatan Pusat Angklung Di Bandung. Lahan ini berada pada distrik perniagaan yang peruntukannya meliputi area jasa, hunian. Tema yang diangkat pada ”ARSITEKTUR TROPIS ” ini adalah yang mana pusat perhatian dan pertimbangannya lebih mengarah kepada iklim tropis seperti kriteria-kriteria fluktuasi suhu ruang (dalam unit derajat Celcius); fluktuasi kelembapan (dalam unit persen); intensitas cahaya (dalam unit lux); aliran atau kecepatan udara (dalam unit meter per detik); adakah air hujan masuk bangunan; serta adakah terik matahari mengganggu penghuni dalam bangunan. Terdapat beberapa fasilitas yang ditawarkan disamping Bengkel sebagai fasilitas utama yaitu Museum, Restoran, Guest House. Fasilitas pendukung ini merupakan suatu cara untuk menambah ilmu pengetahuan tentang kebudaayan yang sedikit mulai terlupakani . Sehingga bangunan ini memiliki fasilitas yang berbeda dan menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi para pengunjungnya.