// <![CDATA[SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI ISLAM DI MAJALENGKA.]]> AAS ASTRYA NATALYADI / 21.2005.095 / AR Dosen Pembimbing 1
Pendidikan mempunyai peranan penting bagi suatu bangsa dan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan manusia. Kualitas sumber daya manusia sangat tergantung dari kualitas pendidikan. Pentingnya pendidikan tercermin dalam UUD 1945, dimana dikatakan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Guna memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan di wilayah Majalengka maka Sekolah Tinggi Teknologi dibangun pada kawasan pendidikan tepatnya di wilayah kecamatan Cigasong sesuai daerah peruntukan lahan pada RTRW Kabupaten Majalengka tahun 2005 – 2015. Tema perancangan yang diangkat dalam proyek perancangan Sekolah Tinggi Teknologi Islam di Majalengka ini adalah ‘Perpaduan Arsitektur Islam dan Arsitektur Sunda’ maksudnya adalah kedua jenis arsitektur ini adalah keterkaitan antara wilayah atau tempat proyek dibangun yaitu di wilayah Sunda yang unsur kedaerahannya masih kental serta nuansa Islam merupakan sebuah sasaran yaitu visi yang ingin dicapai wilayah Majalengka, serta kurikulum sekolah tinggi ini sendiri yang berbasis Islam dengan persentase masyarakat yang dominan beragama Islam maka kedua unsur arsitektur ini dipilih. Tema ini menjadi suatu ciri dari bangunan yang konteks dengan lingkungan sekitar dan perwujudan daerah. Dengan dibukanya STITEK Islam di Majalengka ini berarti permasalahan sarana dan prasarana pendidikan yang kurang dapat terpenuhi, pengembangan wilayah dalam sektor pendidikan dapat terwujud mengingat tingkatan sekolah tinggi di Kabupaten Majalengka masing sangat kurang, menciptakan masyarakat modern yang tahu tentang teknologi namun tidak melupakan nilai–nilai agama Islam, pelopor bangunan dengan Arsitektur Islam dan Arsitektur Sunda di wilayah Kabupaten Majalengka, menciptakan fasilitas kampus yang menunjang pembelajaran mahasiswanya, menciptakan ruang komunal yang berfungsi sebagai wadah berinteraksi antar penghuni kampus, menciptakan nuansa religius di dalam kampus, menciptakan pola tatanan massa bangunan yang saling menunjang semua kegiatan di dalam kampus.