// <![CDATA[MEMBANDINGKAN HASIL PENGUKURAN BIDANG TANAH MENGGUNAKAN GNSS METODE CORS-NTRIP DAN GNSS METODE PPP]]> Gusti Ayu Jessy Kartini / 232010023 Penulis Bambang Rudianto, Ir., M. T.
Penggunaan CORS di BPN telah ditetapkan sejak tahun 2009 dan hingga tahun 2014 telah tersebar 183 stasiun referensi permanen di seluruh Indonesia. Metode ini memiliki kelebihan pada proses pengukuran dengan produktifitas hasil yang tinggi. Selain CORS-NTRIP (Continously Operating Reference Station- Network Transport RTCM via Internet Protocol), metode pengukuran yang berkembang saat ini adalah metode PPP (Precise Point Positioning). Wilayah pengamatan yang akan diteliti terdiri dari 4 jenis topografi, yaitu sawah, lapangan, kebun, dan pemukiman. Topografi sawah dan lapangan memiliki ruang pandang yang relatif terbuka, sedangkan kebun dan pemukiman memiliki ruang pandang yang bervariasi. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa ketelitian posisi yang dihasilkan dari hasil pengukuran menggunakan metode CORS-NTRIP maupun menggunakan metode PPP pada daerah terbuka mempunyai ketelitian yang cukup baik yaitu sebesar ± 0,681 m dan ± 0,342 m, pada daerah tertutup masing-masing sebesar ± 0,863 m dan ± 1,437 m. Hasil perhitungan perbandingan luas bidang tanah menggunakan metode CORS-NTRIP dan metode PPP terhadap metode terestrial untuk lokasi terbuka memenuhi toleransi dibawah 2%, namun secara geometrik bentuk bidang tanah yang dihasilkan dari kedua metode tersebut tidak sama. Dari segi pengoperasian alat, Trimble RTX NETR9 lebih mudah digunakan dibandingkan dengan GEOXH 6000. Bila kedua metode ini digunakan untuk keperluan pendaftaran tanah, maka penggunaan metode ini secara penuh belum dapat disarankan. Namun metode CORS-NTRIP dan metode PPP sangat membantu untuk penyediaan titik dasar teknik secara virtual dan sebagai titik orientasi pengukuran agar memudahkan dalam proses plotting pada peta pendaftaran.