// <![CDATA[MODEL PENJADWALAN BATCH PADA SISTEM PRODUKSI NO - WAIT FLOW SHOP M MESIN DENGAN KRITERIA MINIMASI TOTAL FLOW TIME]]> 0405097701 - Dwi Kurniawan S.T, M.T. Dosen Pembimbing 2 0430056901 - Emsosfi Zaini, Ir., M.T Dosen Pembimbing 1 Dimas Riadi/13-2003-071 Penulis
Kurniawan (2003) mengembangkan model penjadwalan batch pada sistem produksi flow time m mesin dengan kriteria meminimisasi total flow time. Pada kenyataannya suatu perusahaan industri, seperti industri baja dan plastik dibutuhkan penjadwalan flow shop yang tidak mengijinkan adanya suatu batch yang mengalami waktu menunggu atau delay diantara dua mesin (no-wait flow shop). Penelitian mengenai model penjadwalan batch pada system produksi no-wait flow shop telah dikembangkan oleh Dewi (2007) mengenai penjadwalan batch no-wait flow shop dengan kriteria minimisasi lateness maksimum untuk kasus multi item dan multi due date, Lengkana (2007) mengenai penjadwalan batch pada no-wait flow shop m mesin untuk kasus multi item, multi due date dengan kriteria minimisasi jumlah tardy job, dan Mulya (2007) mengenai model no-wait flowshop untuk kasus m mesin dengan kriteria minimisasi total flow time dengan ukuran batch dalam suatu pekerjaan dialokasikan sama. Penelitian ini akan mengembangkan model penjadwalan batch untuk multi item pada nowait flow shop dengan kriteria minimisasi total flow time untuk ukuran batch pekerjaan yang dialokasikan berbeda. Sistem yang akan dibahas pada model ini adalah model penjadwalan batch pada sistem produksi no-wait flow shop m mesin dengan kriteria minimisasi total flow time. Setiap pekerjaan yang akan diproduksi dikelompokkan dalam beberapa batch dengan jumlah dan ukuran yang tidak sama serta seluruh batch tersebut harus melewati m mesin. Set up dilakukan secara bersamaan pada saat batch tersebut datang dengan waktu set up tiap batch sama dan waktu set up tidak tergantung ukuran batch. Pada saat yang bersamaan mesin tidak dapat mengerjakan lebih dari satu batch, dan juga tidak ada batch yang dikerjakan lebih dari satu mesin. Pola kedatangan setiap pekerjaan bersifat statis dan dikerjakan dengan menggunakan pendekatan maju (forward scheduling), yaitu seluruh pekerjaan datang ke lantai produksi pada saat t = 0. Pengembangan model dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap pertama adalah pengurutan seluruh pekerjaan dengan set jumlah batch untuk setiap pekerjaan (Ni) = 1. Pada tahap ini dilakukan perhitungan flow time dan makespan setiap pekerjaan untuk dapat menentukan urutan seluruh pekerjaan berdasarkan aturan Shortest Makespan (SM), tahap kedua adalah pengembangan model optimisasi penjadwalan batch pada no-wait flowshop untuk setiap pekerjaan secara independen dengan kriteria minimisasi total flow time, tahap ketiga adalah penyesuaian saat mulai untuk pekerjaan urutan ke-2 sampai dengan pekerjaan ke-n. Pada tahap ini urutan pekerjaan ke-2 sampai dengan pekerjaan ke-n dimajukan untuk mengurangi idle time antar pekerjaan sehingga menghasilkan jadwal seluruh pekerjaan dan total flow time yang telah direvisi. Pengujian model dilakukan dengan menggunakan data hipotetik. Secara keseluruhan model ini tidak memberikan solusi optimal meskipun proses pemecahan batchnya memberikan solusi optimal, hal ini disebabkan proses pengurutan pekerjaannya tidak menggunakan model optimisasi.