// <![CDATA[RANCANGAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU DI PT. PLN ( PERSERO ) UNIT JASA DAN PRODUKSI BANDUNG.]]> NENSA AJI SUWANDONO / 13.2003.111 Penulis 0430056901 - Emsosfi Zaini, Ir., M.T Dosen Pembimbing 1 0430117501 - R. Cahyadi Nugraha S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
Salah satu faktor yang berpengaruh pada perusahaan adalah aktivitas produksi perusahaan. Kelancaran aktivitas produksi tidak lepas dari ketersediaan bahan baku yang diperlukan untuk memproduksi suatu produk. Dengan tersedianya bahan baku perusahaan dapat mengatasi ketidakpastian kebutuhan bahan baku sehingga permintaan konsumen dapat terpenuhi. Tidak sedikit perusahaan yang melakukan pengendalian persediaan bahan baku secara kualitatif dan hanya didasarkan atas pengalaman sebelumnya. Pengendalian persediaan bahan baku seperti ini dapat mengakibatkan berbagai masalah seperti tidak seimbangnya permintaan dengan penyediaan bahan baku dan waktu yang digunakan untuk memproses bahan baku. Untuk menjaga keseimbangan permintaan dengan penyediaan bahan baku diperlukan suatu rancangan pengendalian persediaan agar perusahaan dapat menentukan jumlah persediaan yang ekonomis sehingga biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dapat diminimumkan. PT. PLN (Persero) Unit Jasa & Produksi Bandung adalah suatu perusahaan milik pemerintah yang bergerak di dua bidang, yaitu bidang produksi dan jasa. Pada saat ini pengendalian persediaan bahan baku yang dilakukan perusahaan hanya didasarkan atas perkiraan permintaan dari konsumen saja dan berfokus pada tingkat ketersediaan bahan baku tanpa melihat aspek biaya yang ditimbulkan. Hal ini dapat dilihat dengan penentuan jumlah pemesanan bahan baku yang dilakukan perusahaan masih didasarkan atas perkiraan konsumen dan sistem pemesanan yang dilakukan perusahaan didasarkan atas permintaan konsumen sehingga perusahaan lebih sering melakukan pemesanan bahan baku yang menyebabkan pemborosan ongkos pesan. Saat ini kebijakan perusahaan dalam melakukan pemesanan adalah melakukan pemesanan sebanyak 80 lembar apabila permintaan dibawah 100 lembar dan apabila permintaan mencapai 100 lembar atau lebih maka perusahaan akan memesan sebanyak 150 lembar. Hal ini dilakukan untuk meminimumkan tingkat persediaan bahan baku yang ada di gudang. Dengan sistem perusahaan yang dilakukan saat ini perusahaan mengalami kekurangan dan kelebihan bahan baku. Kekurangan bahan baku menyebabkan terhentinya aktivitas produksi. Sedangkan persediaan bahan baku yang terlalu banyak menyebabkan biaya simpan yang tinggi. Berdasarkan permasalahan tersebut, untuk menjaga kelancaran aktivitas produksi yang dilakukan perusahaan maka perlu dilakukan perbaikan pengendalian persediaan yang dapat memberikan tingkat ketersediaan dan efisiensi sistem pemesanan yang tinggi. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model persediaan reoder point dengan kondisi demand yang probabilistik, yaitu model reoder-point (Q, r) untuk kasus back order yang dikembangkan oleh Hadley & Within (1963) yang dapat diterapkan pada kondisi perusahaan, yaitu jumlah pesanan tetap dengan periode pesanan yang berubah-ubah. Pada model persediaan ini merupakan model pengendalian persediaan untuk jumlah atau ukuran pemesanan (order) yang tetap dan periode waktu pemesanan yang berbeda-beda. Dengan menggunakan model ini maka dapat ditentukan ukuran pemesanan (Q*) yang optimal, titik pemesanan kembali (r), serta penentuan persediaan pengaman atau safety stock (s). Nilai dari Q, r, dan s yang diperoleh adalah Q sebesar 304 Lembar, r sebesar 136 Lembar, dan s sebesar 52 Lembar. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh total biaya persediaan hasil perhitungan model sebesar Rp. 4.464.089,-, Total biaya persediaan hasil uji verifikasi dari model sebesar Rp. 4.318.122,-, dan total biaya persediaan berdasarkan sistem persediaan perusahaan sebesar Rp. 8.651.752,-. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa total biaya persediaan berdasarkan hasil rancangan lebih kecil dibandingkan berdasarkan sistem persediaan perusahaan sehingga model sistem persediaan hasil rancangan dapat digunakan pada perusahaan.