// <![CDATA[USULAN PENINGKATAN KUALITAS BENANG TR7 DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA.]]> PISTONO / 13.2003.105 Penulis 0425127201 - Hendang S. Rukmi, ST,, M.T. Dosen Pembimbing 2 0415016301 - Abu Bakar Ir.,MM. Dosen Pembimbing 1
PT. Tomenbo Indonesia merupakan perusahaan pemintalan benang yang memproduksi benang sintetis seperti acrylic, polyester, rayon, wool, dan campuran toteronrayon (TR). Salah satu benang campuran adalah TR7 jenis polyesterrayon. Pembuatan benang TR7 terdiri dari tiga tahap produksi yaitu tahap pre spinning, spinning, dan finishing. Dari ketiga tahap produksi benang TR7 tersebut, tahap spinning merupakan tahap yang paling kritis karena tingkat kecacatan/ketidakrataan yang terjadi sebesar 12%. Cacat yang terjadi di tahap spinning sangat mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan karena tidak bisa dirework. Produk ½ jadi yang dihasilkan dari tahap spinning biasanya tetap diproses ke tahap berikutnya (finishing). Tingginya cacat yang terjadi di bagian spinning dapat mengganggu proses produksi pada saat pembuatan benang TR7. Untuk menurunkan tingkat cacat pada benang TR7, diperlukan suatu program manajemen kualitas yang baik. Salah satu metode peningkatan dan perbaikan kualitas secara terstuktur adalah Six Sigma. Tahapan Six Sigma yang dilakukan pada penelitian ini meliputi define, measure. Analyze, dan improve. Dari hasil penelitian, telah teridentifikasi jenis cacat produk benang TR7 terdiri dari 3 jenis, yaitu ketidakrataan neps, thin, dan thick. Ukuran critical to quality (CTQ) adalah 3. Kondisi saat ini diketahui bahwa tingkat DPMO sebesar 9.522 dengan Nilai Sigma sebesar 3,848Sigma. Untuk mengidentifikasi sumber sumber penyebab cacat menggunakan dia ram sebab akibat berdasarkan jenis cacat neps, thin, dan thick. Penentukan prioritas perbaikan faktorfaktor cacat benang TR7 berdasarkan nilai risk priority number (RPN) tertinggi yang ada pada tabel failure mode and effect analysis (FMEA). Pada penelitian ini, penentuan RPN menggunakan pendekatan logika fuzzy. Dari hasil penentuan prioritas perbaikan faktorfaktor cacat benang TR7 diperoleh bahwa penyebab potensial yang perbaikannya segera dilakukan penanganan adalah apron rusak di cradle, traveller aus, top roller kotor atau rusak di rol peregang, top roller kotor atau rusak di pasangan rol, apron rusak di bagian tarik, dan MCC tidak rata (tumpul). Ke6 penyebab potensial dari kegagalan memilki nilai FRPN yang sama yaitu 792. Usulan tindakan perbaikan yang disarankan lebih menekankan pada frekuensi pergantian spare part (onderdil) mesin.