// <![CDATA[PENENTUAN JENIS PEKERJAAN DENGAN MEMPERHATIKAN TINGKAT KEWASPADAAN PRIA DAN WANITA MENGGUNAKAN METODE QUANTITATIVE ANALYSIS OF SITUATIONAL AWARENESS ( QUASA ).]]> PRAWITA VIDIASARI / 13.2003.074 Penulis 0409066802 - Caecilia Sri Wahyuningsih, Ir., MT. Dosen Pembimbing 1 0405097701 - Dwi Kurniawan S.T, M.T. Dosen Pembimbing 2
Kewaspadaan adalah seluruh situasi yang memerlukan informasi detail untuk melakukan penarikan kesimpulan yang direpresentasikan di dalam pikiran seseorang yang digunakan untuk membuat suatu keputusan. Kewaspadaan merupakan salah satu faktor yang mendukung keterampilan (skill appearance) seorang manusia ketika bekerja. Dalam dunia industri tidak hanya pria yang bekerja tetapi juga wanita sering kali mengambil peran penting. Sering kali, pria dan wanita mengerjakan suatu pekerjaan yang sama. Padahal pada penelitian sebelumnya menjelaskan bahwa terdapat perbedaan kemampuan antara pria dan wanita yang dikaitkan dengan belahan spesifik yang terdapat pada otak pria dan wanita. Selain itu, faktor gen, hormon, mekanisme lingkungan, dan juga sosial budaya sangat berpengaruh pada kemampuan pria dan wanita. Meskipun terdapat perbedaan di antara kedua gender tersebut, tingkat kewaspadaan tetap harus dipertahankan pada saat melakukan pekerjaan. Terutama pada pekerjaan yang memerlukan pengawasan atau perhatian yang konstan. Jenis pekerjaan yang berada pada stasiun kerja yang memerlukan tingkat performansi kewaspadaan yang tinggi adalah pekerjaan mendeteksi sinyal dimana dalam konteks ini, sinyal adalah keadaan yang diharapkan terjadi. Salah satu teknik yang dapat mengukur tingkat kewaspadaan manusia adalah Metode QUASA (Quantitative Analysis of Situational Awarenes). Metode tersebut menggabungkan pertanyaan objektif dan pertanyaan subjektif dari objek penelitian itu sendiri. Pertanyaan objektif yaitu berupa pertanyaan kemungkinan benar/salah dari tes kewaspdaan yang diberikan, dan pertanyaan subjektif yaitu pemberian rating secara subjektif dari setiap objek penelitian terhadap tingkat keyakinan yang dirasakan oleh setiap individu dalam menjawab dengan benar pada tes tersebut. Tes yang diberikan pada setiap objek penelitian untuk mengukur tingkat kewaspadaan yaitu Software Vigilance Test. Software tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan yang terbagi menjadi 2 kriteria, yaitu Simultaneous Task Skill dan Successive Task Skill. Simultaneous Task adalah suatu test yang melibatkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Sedangkan Simultaneous Task adalah suatu tes yang melibatkan kemampuan mengingat dari seorang manusia. Output yang dihasilkan dari tes tersebut berupa angka-angka berskala ratio yang kemudian dianalisis menggunakan Statistik Parametrik. Angka-angka tersebut berasal dari perkalian antara nilai jawaban objektif (nilai 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah) dan nilai jawaban subjektif (nilai rating berupa persentase tingkat keyakinan setiap individu). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pada performansi tingkat kewaspadaan pria dan wanita. Dengan menggunakan Uji Paired Sample T-Test terlihat bahwa terdapat pebedaan pada tingkat kewaspadaan pria dan wanita selama 8 jam kerja. Sedangkan dengan menggunakan Uji Independent Sample T-Test terlihat bahwa tidak terdapat perbedaan pada tingkat kewaspadaan pria dan wanita di setiap harinya, maka penelitian dapat dilakukan selama satu hari. Dari perhitungan regresi, maka diketahui penurunan yang terjadi pada performansi tingkat kewaspadaan pria dan wanita. Penurunan tingkat kewaspadaan pria dan wanita terjadi pada jam 11.00 yaitu pada pekerjaan yang memerlukan tingkat konsentrasi tinggi. Sedangkan penurunan tingkat kewaspadaan untuk pekerjaan yang membutuhkan daya ingat tinggi terjadi pada jam 11.00 untuk pekerja wanita, sedangkan pada pria tidak terjadi penurunan tingkat kewaspadaan. Dari perhitungan tersebut maka dapat diperoleh jam istirahat untuk kedua pekerja, dimana jam istirahat tersebut diberikan pada saat terjadinya penurunan pada tingkat kewaspadaan, yaitu pada jam 10.00. Lamanya waktu istirahat cukup diberikan sebentar saja, agar pekerja dapat kembali bekerja dengan baik sebelum waktu istrahat siang. Istirahat siang yaitu pada jam 12.00 tetap harus diberikan karena dalam bekerja setiap manusia harus beristirahat agar dapat mengembalikan kondisi tubuh untuk dapat bekerja kembali secara optimal. Selain jam istirahat, masukan karbohidrat juga perlu diberikan secukupnya agar pekerja dapat bekerja dalam kondisi yang optimal. Selain itu, pekerjaan yang memerlukan tingkat konsentrasi tinggi sebaiknya menggunakan pekerja wanita, karena dari penelitian ini menunjukkan bahwa wanita lebih teliti dalam mengerjakan Simultaneous Task dibandingkan dengan pria. Maka dapat disimpulkan bahwa wanita lebih teliti dibandingkan dengan pria. Sedangkan untuk pekerjaan yang membutuhkan daya ingatan tinggi sebaiknya menggunakan pekerja pria, karena dalam mengerjakan Successive Task pria lebih unggul dibandingkan wanita.