// <![CDATA[USULAN PEMILIHAN ALTERNATIF SISTEM MATERIAL HANDLING BATUBARA DI PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKASA, TBK CIGADING, CILEGON.]]> SANDI SEPRIYADI / 13.2003.084 Penulis Ir. Alex Saleh, MT. Dosen Pembimbing 1 0430117501 - R. Cahyadi Nugraha S.T., M.T. Dosen Pembimbing 1
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (PT. Indocement) adalah salah satu produsen semen di Indonesia yang memproduksi semen tipe Ordinary Portland Cement disingkat OPC dan Portland Composite Cement disingkat PCC. Indocement juga memproduksi semen jenis lain misalnya Portland Cement Type II dan Type V serta Oil Well Cement dan merupakan satu-satunya produsen semen jenis Semen Putih (White Cement) di Indonesia. Untuk mempermudah penerimaan pasokan batubara sebagai bahan bakar utama pembuatan semen, PT. Indocement memiliki divisi warehouse batubara (penerimaan dan gudang sementara) yang bertempat di pelabuhan Cigading, Cilegon, Propinsi Banten. Terdapat 4 kegiatan utama yang berlangsung di gudang bahan bakar ini, salah satunya yaitu penerimaan dan pemindahan batubara. Untuk proses penerimaan batubara, ada dua pelabuhan yang biasa digunakan yaitu PT. Krakatau Bandar Samudera (PT. KBS) dan PT. Pelabuhan Indonesia II (PT. Pelindo II). Pada saat ini perusahaan mempunyai dua buah sistem material handling untuk mendukung proses pemindahan batubara dari pelabuhan ke tumpukan (stock pile) batubara yaitu sistem trucking dan sistem belt conveyor. PT. KBS menyediakan dua akses sistem material handling untuk proses pemindahan batubara dari pelabuhan menuju stock pile yaitu akses untuk sistem belt conveyor dan sistem trucking, namun saat ini sistem belt conveyor dari pelabuhan menuju indoor storage sudah tidak digunakan lagi. Beda halnya dengan PT. KBS, PT. Pelindo II hanya menyediakan satu akses sistem material handling untuk proses pemindahan batubara dari pelabuhan menuju stock pile yaitu akses untuk sistem trucking. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah pemindahan batubara dari pelabuhan menuju stock pile batubara dengan menggunakan dua sistem material handling. Untuk memperlancar aliran batubara dan menghemat waktu serta biaya pemindahan maka diusulkan beberapa alternatif sistem material handling baru baik di akses PT. KBS maupun akses PT. Pelindo II dan untuk mengetahui sistem material handling mana yang terbaik maka dilakukan perhitungan dan perbandingan biaya serta waktu rata-rata per tahun untuk sistem trucking dan sistem belt conveyor baik yang sudah ada maupun usulan yang akan dibangun. Selain itu, untuk mempermudah dalam pemilihan sistem material handling maka dilakukan perhitungan terhadap biaya investasi dari setiap sistem material handling yang ada. Biaya investasi dan operasional yang harus dikeluarkan setiap periodenya dari setiap sistem material handling dapat dilihat dari hasil perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan salah satu teknik analisis dalam ekonomi teknik yaitu EUAC (Equivalent Uniform Annual Cost ) dan memilih sistem material handling dengan EUAC terkecil. Di akses PT. KBS biaya operasional dan maintenance serta waktu rata-rata yang harus dikeluarkan dalam satu tahun untuk pemindahan batubara menggunakan sistem belt conveyor sebesar Rp. 3,683,402,029.28 dan 288.12 jam. Jika pemindahan batubara menggunakan system trucking, biaya operasional dan maintenance rata-rata yang harus dikelurakan dalam satu tahun sebesar Rp. 3,439,606,608.24 dan waktu sebanyak 652.60 jam. Dilihat dari biaya investasi dan operasional serta maintenance dengan menggunakan metode EUAC menghasilkan kesimpulan bahwa sistem trucking memiliki EUAC terkecil sebesar Rp. 3,961,350,915.00 jika dibandingkan dengan percabangan sistem belt conveyor (usulan) sebesar Rp. 4,140,066,950.00. Di akses PT. Pelindo II perhitungan biaya investasi dan operasional serta maintenance dengan metode EUAC menghasilkan kesimpulan bahwa sistem belt conveyor baru sebagai usulan memiliki EUAC terkecil sebesar Rp. 2,985,015,519.00 jika dibandingkan dengan sistem trucking murni sebesar Rp. 3,181,201,769.00. Sistem material handling yang baik dan tepat akan berpengaruh terhadap waktu dan ongkos produksi suatu perusahaan dalam menyelesaikan produknya karena dapat meminimumkan biaya dan waktu operasional yang akhirnya dapat meningkatkan produktivitas kerja perusahaan.