// <![CDATA[PERANCANGAN STASIUN KERJA DURASI KERJA BERDASARKAN PENILAIAN JOB STRAIN INDEX ( STUDI KASUS DI PT. KAYO SURYA UTAMA )]]> ARI RAHMAN / 13.2003.075 Penulis 0409066802 - Caecilia Sri Wahyuningsih, Ir., MT. Dosen Pembimbing 1 0430127601 - Arie Desrianty S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
Secara umum permasalahan kesehatan bagi pekerja di perindustrian terbagi atas dua hal pokok yaitu perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya (unsafe condition) (Depkes, 2005). Kondisi tersebut biasanya terjadi akibat dari kurangnya perhatian dan kesadaran dari pekerja dan pihak perusahaan terhadap permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja. PT Kayo Surya Utama merupakan salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang produksi sparepart lemari es dan sparepart Air Conditioner (AC). Tingginya aktivitas manual yang terjadi mengakibatkan operator sering merasakan gejala sakit, linu atau pegal pada bagian-bagian tubuh tertentu. Anggota tubuh ekstrimitas bagian atas yang terdiri dari: bahu, perbatasan tubuh dan lengan atas, lengan atas, siku, lengan bawah, dan tangan (Snell, 1996) merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sering dan rentan terkena cidera kerja. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara menggunakan kuisioner Nordic Body Map, terpilih stasiun kerja manual soldering sebagai stasiun kerja yang paling berisiko terkena cidera kerja. Hal ini terlihat dari tingginya persentase risiko cidera kerja sebesar 69.33% dibandingkan stasiun kerja lainnya. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap kondisi pekerjaan manual soldering. Proses analisis kondisi pekerjaan pada stasiun kerja manual soldering dilakukan dengan menggunakan metode job strain index. Metode ini melihat posisi dan pembebanan terhadap anggota tubuh ekstrimitas bagian atas dari enam variabel kerja, yaitu: intensitas exertion/penggunaan otot, durasi exertion, exertion per menit, postur tangan dan pergelangan tangan, kecepatan kerja, dan durasi kerja per hari. Berdasarkan perhitungan strain index didapatkan strain index score untuk pekerjaan manual soldering sebesar 9 yang menunjukan kondisi pekerjaan tersebut berbahaya (probably hazardous). Kondisi stasiun kerja dan durasi kerja merupakan faktor penyebab keadaan tersebut. Proses penyolderan dikerjakan diatas meja kerja dan dilakukan dengan cara berdiri selama 8 jam kerja efektif dengan waktu istirahat selama 1 jam. Letak produk yang akan disolder diletakan di atas meja yang posisinya berada di belakang operator, sehingga operator harus melakukan gerakan berputar untuk mengambil produk tersebut. Perancangan stasiun kerja dilakukan dengan menggunakan pendekatan antropometri. Pendekatan ini menghasilkan rancangan stasiun kerja baru dengan beberapa penambahan, diantaranya: penambahkan permukaan meja kerja ke-2 yang digunakan untuk menyimpan produk yang akan disolder, penambahan toolbox alat solder dan kawat elektroda, dan perancangan kursi kerja. Dengan adanya penambahan kursi kerja, operator dapat bekerja secara duduk pada saat bekerja. Perancangan ini dilakukan untuk meminimisasi jumlah exertion yang dilakukan pada saat bekerja. Perancangan durasi kerja dilakukan dengan menggunakan pendekatan fisiologi kerja yang menekankan pada waktu istirahat yang dibutuhkan, sehingga dapat meminimisasi kelelahan kerja. Pendekatan ini mengusulkan untuk diberikannya penambahan waktu istirahat untuk operator selama 20 menit dari durasi kerja awal. Hasil rancangan terhadap stasiun kerja dan durasi kerja memberikan penurunan terhadap strain index score yang dihasilkan menjadi 1.5. Hal ini menandakan bahwa hasil rancangan aman (probably safe) untuk digunakan, sehingga dapat direkomendasikan untuk diterapkan oleh pihak perusahaan. sebagai langkah awal dalam menciptakan kondisi kerja yang efektif, aman, nyaman, sehat, dan efisien (ENASE).