IMPLEMENTASI METODE SIX SIGMA SEBAGAI TEKNIK PEMECAHAN MASALAH PENINGKATAN KUALITAS PADA PRODUK KEMEJA FORMAL.
PT. Dewhirst merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi bermacam-macam jenis pakaian merek Marks & Spencer seperti kemeja formal, kemeja kasual, dan celana panjang. Pihak konsumen telah menetapkan standar kualitas untuk setiap jenis produknya. Oleh karena itu produk-produk yang dihasilkan oleh PT. Dewhirst harus memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan oleh konsumen meliputi kualitas dari bahan baku, dan produk yang terbebas dari cacat.
Berdasarkan data masa lalu yang diperoleh dari Departemen Quality, produk kemeja formal merupakan produk yang paling banyak dipesan dan mempunyai persentase cacat terbesar yaitu mencapai rata-rata 4,16% setiap periodenya. Hal ini menyebabkan perusahaan mengalami kerugian dalam hal waktu dan biaya produksi karena pengerjaan ulang dan material tambahan untuk menggantikan produk yang cacat.
Perusahaan ingin meminimasi jumlah cacat pada tingkat yang paling rendah dengan mencari penyebab tidak tercapainya standar kualitas sehingga perusahaan dapat menekan jumlah pekerjaan ulang hingga seminimal mungkin. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan penelitian untuk peningkatan kualitas pada produk kemeja formal dengan menggunakan metode Six Sigma. Metode ini bertujuan untuk menghasilkan produk menuju tingkat kegagalan nol melalui 5 tahapan, yaitu Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control.
Pada pemeriksaan yang dilakukan di bagian assembly, terdeteksi 11 jenis cacat dan jenis cacat tertinggi adalah jenis cacat broken stitch yaitu cacat untuk jahitan yang putus. Pengidentifikasian faktor-faktor penyebab cacat dilakukan dengan menggunakan fault tree diagram. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dari kemeja yang dihasilkan yaitu terdapat benang pada jalur jahit yang tergunting, terdapat sambungan yang terlepas, tegangan benang terlalu kencang, dan kondisi jarum yang tumpul. Setelah diketahui faktor penyebab dari jenis cacat tersebut kemudian dibuat suatu rancangan usulan tindakan perbaikan yang akan diterapkan oleh operator pada bagian assembly untuk meminimasi jumlah cacat broken stitch. Tindakan perbaikan yang dilakukan adalah benang yang terselip pada jalur jahit dicabut oleh supervisor endline, menetapkan prosedur yang sama pada jahitan bagian luar dan dalam, memastikan bahwa operator memeriksa keadaan mesin jahit sebelum operator mulai bekerja termasuk posisi benang, kondisi putaran benang, sekoci, dan kondisi tegangan benang. Tindakan pengendalian dilakukan dengan cara menjadikan langkah-langkah perbaikan yang ada sebagai pedoman kerja standar.
Perbandingan hasil yang dicapai antara sebelum dan sesudah implementasi perbaikan dengan metode peningkatan kualitas Six Sigma dinyatakan dalam Defect Per Million Opportunities (DPMO) dan nilai sigma. Perbandingan terhadap ukuran performansi DPMO sebelum dan sesudah dilakukan implementasi perbaikan, mengalami penurunan dari DPMO sebesar 3.779,88 menjadi 808,26. Peningkatan nilai sigma setelah perbaikan memperlihatkan bahwa dengan DPMO 808,26 nilai sigma mengalami kenaikan dari nilai sigma 4,19s menjadi 4,65s. Penurunan DPMO dan peningkatan nilai sigma memperlihatkan adanya perbaikan pada proses produksi kemeja formal sehingga masalah cacat broken stitch dapat berkurang.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2009).IMPLEMENTASI METODE SIX SIGMA SEBAGAI TEKNIK PEMECAHAN MASALAH PENINGKATAN KUALITAS PADA PRODUK KEMEJA FORMAL. ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.IMPLEMENTASI METODE SIX SIGMA SEBAGAI TEKNIK PEMECAHAN MASALAH PENINGKATAN KUALITAS PADA PRODUK KEMEJA FORMAL. ().Teknik Industri:FTI,2009.Text
MLA Style
.IMPLEMENTASI METODE SIX SIGMA SEBAGAI TEKNIK PEMECAHAN MASALAH PENINGKATAN KUALITAS PADA PRODUK KEMEJA FORMAL. ().Teknik Industri:FTI,2009.Text
Turabian Style
.IMPLEMENTASI METODE SIX SIGMA SEBAGAI TEKNIK PEMECAHAN MASALAH PENINGKATAN KUALITAS PADA PRODUK KEMEJA FORMAL. ().Teknik Industri:FTI,2009.Text