USULAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KAOS KERAH CUWANGKI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA ( STUDI KASUS DI BOUNDED WAREHOUSE ).
Untuk mengatasi persaingan yang semakin ketat pada era globalisasi ini menuntut suatu
perusahaan perlu meningkatkan kualitas produk ataupun jasa yang dihasilkan agar produk
ataupun jasa yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik. Hal ini disebabkan karena kualitas
produk atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan merupakan kunci utama untuk
mengalahkan para pesaingnya. Masalah yang sering terjadi pada boundedWAREHOUSE dalam
memproduksi produk textil, adalah tingginya tingkat kecacatan pada produk kaos berkerah
cuwangki, sehingga menyebabkan boundedWAREHOUSE mengalami kerugian yang besar.
Jika boundedWAREHOUSE tidak ingin mengalami kerugian yang terus menerus maka hal ini
harus segera ditanggulangi. Metode yang diusulkan kepada boundedWAREHOUSE untuk
digunakan untuk peningkatan kualitas produk kaos berkerah cuwangki tersebut adalah dengan
menggunakan metode Six Sigma.
Dari hasil proses produksi kaos berkerah cuwangki pada tanggal 08 Januari 2008
sampai 29 Januari 2008 diperoleh 13 jenis cacat pada saat proses pembuatan kaos berkerah
cuwangki. Tingkat DPMO (Defect Per Million Opportunities) sebelum proses implementasi
adalah 9,4575 dan nilai Sigma sebesar 3.85 Sigma. Hal ini membuktikan bahwa nilai DPMO
boundedWAREHOUSE masih jauh dari target Six Sigma dan tingkat 3,4 DPMO, maka perlu
dilakukan peningkatan kualitas yang berkesinambungan. Dalam upaya peningkatan kualitas
tersebut dilakukan pemilihan jenis cacat yang didapat dari persetujuan pihak perusahaan yaitu
dengan 2 jenis cacat terbesar saja. 2 jenis cacat terbesar tersebut adalah, boridir posisi dan bordir
miring. Penyebab cacat dapat diketahui dengan menggunakan fishbone dan Fault Tree
Diagram. Penyebab potensial pada cacat bordir posisi dan bordir miring adalah pelatihan yang
diberikan perusahaan kurang memadai, banyak suara bising pada lantai produksi, dan petunjuk
pada benda kerja dibuat dengan tidak tebal.
Tahap selanjutnya setelah penyabab cacat diketahui adalah menyusun usulan perbaikan
kualitas yang bertujuan meminimasi penyebab cacat tersebut agar tidak dapat terulang kembali, terdapat 3 buah usulan yang akan dilakukan untuk mengurangi tingkat cacat pada lantai produksi, yaitu
1. pembuatan tata cara penggunaan mesin bordir (SOP mesin bordir).
2. penggunaan air plug pada operator.
3. penandaan dilakukan 2x agar tanda tidak mudah terhapus.
Selanjutnya setelah usulan perbaikan dilakukan maka dilakukan perhitungan kembali
nilai DPMO setelah proses implementasi adalah, 2,948 dan nilai sigma 4.28. Hal ini
menunjukan bahwa nilai DPMO mengalami penurunan bila dibandingkan dengan nilai
DPMO sebelum implementasi, dan nilai sigma mengalami peningkatan bila dibandingkan sebelum implementasi. Hal ini membuktikan bahwa usaha perbaikan yang dilakukan sudah dapat menurunkan produk cacat atau kualitas dari produk cuwangki.
Perlu dilakakukan pembuatan standarisasi dari hasil implementasi yang dilakukan.
Proses standarisasi ini bertujuan untuk menjaga atau meningkatkan kualitas produk kaos
kerah cuwangki.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2009).USULAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KAOS KERAH CUWANGKI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA ( STUDI KASUS DI BOUNDED WAREHOUSE ). ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.USULAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KAOS KERAH CUWANGKI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA ( STUDI KASUS DI BOUNDED WAREHOUSE ). ().Teknik Industri:FTI,2009.Text
MLA Style
.USULAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KAOS KERAH CUWANGKI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA ( STUDI KASUS DI BOUNDED WAREHOUSE ). ().Teknik Industri:FTI,2009.Text
Turabian Style
.USULAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK KAOS KERAH CUWANGKI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA ( STUDI KASUS DI BOUNDED WAREHOUSE ). ().Teknik Industri:FTI,2009.Text