// <![CDATA[USULAN BOBOT PENILAIAN KRITERIA PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU IRON ORE PELLET DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP).]]> EKKY WIRYA BAHARI / 13.2003.098 / TI Penulis R. Hari Adianto. Drs., M.T. Dosen Pembimbing 1 0422117502 - Rispianda , S.T., M.T., M.Phiil. Dosen Pembimbing 2
Pada kondisi ekonomi sekarang kunci keberhasilan perusahaan terletak pada kemampuan untuk menciptakan produk yang inofatif dibanding pesaingnya. Konsumen membutuhkan barang yang murah dan memiliki kualitas yang baik, ketepatan dalam pengiriman barang dan pelayanan setelah barang diterima. Perusahaan yang bertindak sebagai konsumen akan benar-benar memperhatikan cara-cara untuk mendapatkan kriteria tersebut. Untuk itu, perusahaan perlu menjalin kerjasama dengan para penyedia bahan kebutuhannya yang dinamakan supplier. Untuk mencari bahan baku iron ore pellet PT. Krakatau Steel melakukan kerjasama dengan supplier yang berasal dari luar negeri. Kerjasama PT. Krakatau Steel dengan supplier dibuat dalam bentuk kontrak kerjasama untuk supplier menyediakan bahan baku iron ore pellet. Perusahaan yang menyediakan bahan baku iron ore pellet untuk PT. Krakatau Steel yaitu PT. X dari Brasil, PT. Y dari Chili, dan PT. Z dari Iran. Proses pengambilan keputusan memilih supplier yang dianggap layak diambil dengan cara penentuan keputusannya diambil oleh salah satu pihak, yang dalam hal ini perusahaan diwakili oleh Direktur Produksi belum dapat dinilai sebagai keputusan yang tepat. Karena proses pengambilan keputusannya belum bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan hasilnya juga belum tentu ekonomis, baik dalam hal biaya yang dikeluarkan maupun hasil yang akan didapat dari kontrak kerjasama tersebut. Selama ini PT. Krakatau Steel hanya memfokuskan penilaian kinerja supplier hanya pada kriteria kualitas bahan baku. Untuk dapat menstandarkan pemilihan supplier mana yang akan dijadikan prioritas, metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat mengukur prioritas yang diutamakan dengan adanya multi kriteria pemilihan supplier. Metoda AHP yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty cocok untuk pengambilan keputusan yang melibatkan multi kriteria dan multi partisipan (Group Decision Making), membantu para pengambil keputusan untuk mengidentifikasi permasalahan dan menentukan solusi yang diinginkan dengan menyusun masalah kedalam suatu hirarki, sehingga masalah yang kompleks dapat ditinjau dari sisi rinci dan terukur. Penilaian didasarkan pada pengalaman, wawasan, dan visi yang diwujudkan dalam bentuk persepsi dan intuisi dari pengambil keputusan. Dari Penilaian 4 kriteria utama, didapat bahwa kriteria kualitas memiliki bobot tertinggi yaitu 31.3% dan diikuti oleh kriteria harga, pelayanan dan pengiriman sebagai urutan kriteria penilaian berikutnya. Dari keseluruhan subkriteria, subkriteria kesesuaian spesifikasi memiliki bobot global penilaian tertinggi yang artinya kesesuaian spesifikasi menjadi prioritas utama dalam pemilihan supplier. Subkriteria kemudahan dihubungi merupakan penilaian dengan bobot global terendah untuk pemilihan supplier.