// <![CDATA[KEBIJAKAN SISTEM PERSEDIAAN FREON DAN PIPA TEMBAGA PADA SINGLE SUPPLIER DENGAN KENDALA KAPASITAS GUDANG DI PT. SANKYO SAHABAT INDONESIA.]]> RIZAL MUTTAQIN / 13.2004.048 / TI Penulis 0430056901 - Emsosfi Zaini, Ir., M.T Dosen Pembimbing 1 0425107701 - Hendro Prassetiyo, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
Persediaan merupakan faktor yang dapat memicu peningkatan biaya, tetapi dalam kondisi nyata persediaan tetap diperlukan dan sangat sulit dihindari karena sebenarnya permintaan yang datang dari konsumen pun mengandung unsur ketidakpastian. Menetapkan jumlah persediaan terlalu banyak dapat mengakibatkan tingginya biaya simpan, namun menetapkan jumlah persediaan yang terlalu sedikit akan mengakibatkan hilangnya kesempatan dalam pemenuhan permintaan yang datang lebih besar dari jumlah persediaan sehingga akan menyebabkan lost sales. Untuk menyediakan produknya, seringkali perusahaan memesan produk untuk beberapa jenisnya secara tidak bersamaan, padahal supplier produk tersebut adalah sama. Hal ini menyebabkan biaya pesan menjadi besar. PT. Sankyo Sahabat Indonesia (PT. SSI) adalah suatu perusahaan yang bergerak di bidang penjualan berbagai macam sparepart alat elektronik (multi item), produk yang dijual diantaranya adalah Freon dan Pipa Tembaga. Kedua produk tersebut dipesan pada satu supplier. Sistem persediaan di PT. SSI memerlukan perbaikan karena dalam pemesanan produk Freon dan Pipa Tembaga yang multi item belum dilakukan sekaligus padahal produk-produk tersebut dipesan pada supplier yang sama. Saat pemesanan yang sama untuk beberapa jenis produk yang berasal dari supplier yang sama akan menghemat ongkos pesan karena pemesanan dilakukan bersamaan sehingga ongkos persediaan menjadi minimum. Pihak PT SSI juga belum memperhatikan kapasitas gudang yang dimiliki oleh perusahaan. Model yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di PT. SSI adalah model multi item pada single supplier yang dikembangkan oleh Amelia dan Parung (1999) tetapi dengan mempertimbangkan ongkos kekurangan persediaan pada model persediaannya. Sehingga pada penelitian ini, dilakukan pengembangan model dengan cara optimisasi ongkos total persediaan yang telah mempertimbangkan ongkos kekurangan persediaan sebelum digunakan untuk menyelesaikan permasalahan perusahaan. Model yang dikembangkan menghasilkan frekuensi pemesanan yang akan mempengaruhi pada kuantitas pemesanan optimal dari masing-masing jenis produk. Selain itu kapasitas dari gudang penyimpanan produk menjadi kendala dalam penentuan kuantitas pemesanan produk. Rancangan sistem persediaan menggunakan model yang dikembangkan pada penelitian ini menghasilkan total ongkos persediaan (September – November 2008) sebesar Rp 1.419.245.228. Sedangkan sistem persediaan yang digunakan perusahaan saat ini menghasilkan ongkos total sebesar Rp 1.527.467.984. Model persediaan pada penelitian ini menghasilkan ongkos total lebih rendah dibandingkan dengan sistem persediaan perusahaan. Model yang dihasilkan bisa menghemat pengeluaran perusahaan sebesar 7,08%.