USULAN ELIMINASI PEMBOROSAN PADA LANTAI PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP LEAN MANUFACTURING. ( STUDI KASUS PERUSAHAAN PERSEORANGAN ANEKA RAJUT).
Dengan perkembangan dunia industri yang semakin maju saat ini, setiap perusahaan harus
mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam menjalankan aktivitasnya. Pemborosan
yang terjadi pada proses kerja sehari-hari di dalam perusahaan tentunya sangatlah bertentangan
dengan hal tersebut. Karena itu setiap perusahaan yang ingin maju haruslah mampu
mengidentifikasi pemborosan-pemborosan apa saja yang masih terdapat dalam perusahannya, untuk
kemudian berusaha semaksimal mungkin mengeliminasi ataupun miminimasi.
Lean adalah suatu upaya terus menerus untuk menghilangkan pemborosan (waste) dan
meningkatkan nilai tambah produk (barang dan jasa) agar memberikan nilai kepada pelanggan
(customer value). Tujuan Lean adalah meningkatkan terus menerus customer value melalui
pengingkatan terus menerus rasio antara nilai tambah terhadap waste (the value-to-waste ratio).
Konsep lean yang diterapkan pada manufaktur disebut lean manufacturing. Waste merupakan
pemborosan yang terjadi namun belum tentu telah disadari oleh pihak perusahaan yang
menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Dalam sistem lean manufacturing, terdapat 7 waste yang
dapat dianalisa yaitu Overproduction, Waiting, Transportation, Non Value Added Activities, Excess
Inventory, Excess Motion, Defects/Underutilized People.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pemborosan-pemborosan yang terjadi dan
merancang suatu sistem manufaktur yang ramping (lean manufacturing) untuk dapat mengurangi
lead time pada lantai produksi yang timbul akibat waste tersebut pada Perusahaan Perseorangan
Aneka Rajut dalam pembuatan swater polos hitam. Perancangan sistem produksi lean yang dapat
meminimalkan waste yang terjadi sehingga dapat meningkatkan efesiensi dan produktivitas
perusahaan.
Untuk itu, dalam penelitian yang difokuskan pada lini produksi ini, akan dikembangkan
rancangan strategi perbaikan dengan menggunakan konsep Lean Manufacturing. Konsep ini
menggunakan value stream mapping untuk melakukan pemetaan aliran material yang terjadi dari
awal sampai produk diterima oleh konsumen. Berdasarkan hasil pemetaan current state map value
stream (keadaan saat ini) yang memiliki lead time produksi sebesar 4660,3 menit, maka dapat
dilakukan identifikisai waste yan terjadi dengan mengunakan metoda 5W-1H (What, Who, Where,
When, Why, and How). Akar permasalaan yang terjadinya pemborosan diidentifikasi menggunakan
metoda 5 Why). Setelah dilakukannya identifikasi maka selanjutnya adalah melakukan perancangan
dan tindakan untuk perbaikan dengan menggunakan future state design. Dalam perancangan future
state design terdapat beberapa usulan yaitu usulan penggabungan proses linking & obras,
penggabungan proses sortir & finishing, usulan penambahan kapasitas dengan menambah pekerja
pada proses rajut, Usulan perbaikan metoda kerja pada proses rajut dan usulan perbaikan organisasi
tempat kerja dilantai produksi dengan menggunakan metode 5S. Dari usulan tersebut maka dalam
perancangan future state design dapat mengurangi pemborosan menunggu sampai 483,2 menit,
sedangkan lead time yang didapat 4176,3 menit.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2009).USULAN ELIMINASI PEMBOROSAN PADA LANTAI PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP LEAN MANUFACTURING. ( STUDI KASUS PERUSAHAAN PERSEORANGAN ANEKA RAJUT). ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.USULAN ELIMINASI PEMBOROSAN PADA LANTAI PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP LEAN MANUFACTURING. ( STUDI KASUS PERUSAHAAN PERSEORANGAN ANEKA RAJUT). ().Teknik Industri:FTI,2009.Text
MLA Style
.USULAN ELIMINASI PEMBOROSAN PADA LANTAI PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP LEAN MANUFACTURING. ( STUDI KASUS PERUSAHAAN PERSEORANGAN ANEKA RAJUT). ().Teknik Industri:FTI,2009.Text
Turabian Style
.USULAN ELIMINASI PEMBOROSAN PADA LANTAI PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP LEAN MANUFACTURING. ( STUDI KASUS PERUSAHAAN PERSEORANGAN ANEKA RAJUT). ().Teknik Industri:FTI,2009.Text