// <![CDATA[RANCANGAN TATA LETAK GUDANG PRODUK JADI MENGGUNAKAN KEBIJAKAN PENYIMPANAN BERKELOMPOK (CLASS-BASED STORAGE POLICY) (STUDI KASUS DI PT COCA-COLA BOTTLING INDONESIA BANDUNG)]]> HAFIZ FERNANDI / 13.2004.094 Penulis 0401066902 - Yuniar, S.T., M.T Dosen Pembimbing 1 Arif Imran, S.Si., M.T., Ph.D. Dosen Pembimbing 2
Gudang merupakan tempat penyimpanan sementara sebagai tempat persediaan yang timbul akibat kurang seimbangan jumlah penawaran dan permintaan (Lambert et al, 1993). Tempat penyimpanan produk jadi yang baik adalah produk jadi yang disimpan dalam keadaan tersusun rapi dan adanya pengelompokkan terhadap jenis produk. Pengelompokkan dilakukan agar pemanfaatan tempat penyimpanan dapat digunakan dengan maksimal. PT. CCBI memiliki 2 gudang produk jadi yang terdiri dari gudang Hotfill dan gudang RGB (Returnable Glass Bottle). Gudang hotfill adalah gudang yang dijadikan objek penelitian. Gudang hotfill terdiri dari 8 produk dan memiliki kapasitas penyimpanan yang besar, karena produk hotfill diproduksi hanya di PT. CCBI wilayah Jawa Barat saja. Oleh karena itu, PT. CCBI harus memenuhi permintaan untuk outlet-outlet yang ada diseluruh Indonesia. Proses penyimpanan gudang hotfill milik PT. CCBI menerapkan penyimpanan produk secara acak. Penyimpanan acak maksudnya operator memiliki kecenderungan untuk menempatkan produk yang baru datang dari departemen produksi ke tempat alokasi kosong yang terdekat. Sebagai akibatnya, operator mengalami kesulitan saat mengatur palet produk untuk menyediakan tempat produk yang akan masuk ke gudang dan saat pengambilan produk untuk didistribusikan keluar gudang. Untuk mengatasi permasalahan diatas dilakukan rancangan tata letak gudang berdasarkan kebijakan penyimpanan berkelompok. Larson et al (1997) mengembangkan penelitiannya pada pengaturan tata letak gudang berdasarkan kebijakan penyimpanan berkelompok. Berkelompok maksudnya produk dikelompokkan berdasarkan kriteria tertentu (misalnya tipe produk, banyaknya permintaan, dan lain-lain). Terdapat 3 tahap pengerjaan rancangan tata letak gudang dalam model Larson et al (1997). Tahap pertama adalah penentuan tata letak dan ukuran gang. Tahap kedua adalah penentuan jumlah kebutuhan tempat penyimpanan dan kedalaman baris untuk tiap produk dengan menggunakan algoritma kedalaman baris. Tahap ketiga adalah pengelompokkan produk dan penempatan masing-masing kelompok kedalam daerah penyimpannya. Perhitungan pada tahap ini menggunakan algoritma pengelompokkan. Rancangan yang di hasilkan memiliki 5 daerah penyimpanan untuk 6 kelompok produk jadi. Setiap daerah penyimpanan memiliki panjang daerah yang sama, yaitu 52 palet. Setiap daerah penyimpanan memiliki kedalaman baris tiap produk sebesar 2 palet. Dari hasil perhitungan ongkos material handling terdapat perbedaan ongkos material handling tata letak gudang sekarang dengan tata letak gudang usulan sebesar Rp 7.423,- per minggu. Penurunan total OMH ini berarti perusahaan telah melakukan penghematan dalam hal penggunaan material handling. Penurunan total OMH terhadap tata letak usulan disebabkan oleh jauhnya jarak perpindahan material handling pada tata letak sekarang karena palet produk yang sejenis disimpan secara acak. Misalnya produk Freshtea Green Tea yang banyak diminta oleh sales center, disimpan pada daerah penyimpanan yang berbeda-beda.