// <![CDATA[RANCANGAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU MENGGUNAKAN MODEL PERSEDIAAN STOKASTIK UNTUK KASUS JOINT REPLENISHMENT (STUDI KASUS DI PD. KURNIA ABADI)]]> Dwi Kurniawan, S.T., M.T Ir. Ambar Harsono, M.T Rd. RAKEAN SUNDAJATI / 13-2003-093 Penulis
Persediaan adalah sumber daya yang mengganggur yang menunggu proses lebih lanjut serta memiliki nilai ekonomis. Persediaan dapat berupa bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi. Pengendalian persediaan merupakan masalah yang penting di setiap perusahaan, karena dapat mempengaruhi bagian keuangan, bagian produksi, dan bagian pemasaran di perusahaan tersebut. Jumlah persediaan yang dimiliki perusahaan akan menentukan apakah permintaan konsumen dapat terpenuhi atau tidak. PD. Kurnia Abadi merupakan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur yaitu dibidang konveksi dan rajutan. Perusahaan ini memproduksi barang yang berbahan baku benang, dimana barang yang dihasilkan bermacam-macam seperti sweater, pakaian rajut, kupluk, sarung tangan dan lain-lain. Bahan baku untuk pembuatan produk tersebut adalah benang dengan variasi yang bermacam-macam dan mempunyai item yang banyak dan beraneka ragam (multi-item) dengan kebutuhan akan bahan baku bersifat stokastik. Bahan baku yang dibutuhkan oleh perusahaan ini di peroleh dari banyak supplier diantaranya adalah dari PT. Kahatex. PT. Kahatex ini adalah perusahaan yang memasok beberapa bahan baku sekaligus. Pengendalian persediaan di PD. Kurnia Abadi pada dasarnya dilakukan hanya berdasarkan intuisi dan pengalaman saja tanpa menggunakan suatu metode yang jelas, sistematis dan matematis. Pada saat ini, perusahaan mengalami ongkos pesan yang cukup besar, hal ini dikarenakan ongkos pemesanannya dilakukan secara sendiri-sendiri, sehingga mengakibatkan pemborosan ongkos pesan. Melihat permasalahan di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian persediaannya perlu dievaluasi dan diperbaiki dengan metode yang baru yang lebih sistematis dan matematis sehingga dapat menghasilkan ongkos persediaan yang lebih baik dan lebih optimum. Model yang sesuai dengan kondisi perusahaan dimana mempunyai permasalahan permintaan bahan baku yang bersifat stokastik dan mempunyai sumberdaya yang multi-item dengan satu supplier yang memasok banyak bahan baku ini adalah model periodic review untuk kasus joint replenishment dengan permintaan bersifat stokastik. Dengan model ini, pemesanan yang awalnya dilakukan secara sendiri-sendiri (mandiri) menjadi pemesanan yang dilakukan secara gabungan/bersama-sama (Joint Replenishment) dimana jika pemesanan dilakukan secara bersama-sama maka akan menghemat ongkos pesannya, sehingga akan meminimasi ongkos persediaan. Model ini sendiri dikembangkan oleh Eynan dan Kropp (1998). Sedangkan variabel keputusan dari model ini adalah Interval Pemesanan (Ti *) dan Inventory Level (ILi) dari tiap-tiap jenis bahan baku. Rancangan sistem pengendalian persediaan bahan baku menghasilkan Interval Pemesanan (Ti *) dan Inventory Level (ILi) dari tiap-tiap jenis bahan baku. Dari perhitungan diperoleh bahwa masing-masing faktor pengalinya sebesar k = 1, dengan nilai Interval Pemesanannya (Ti *) sebesar 1,13 bulan atau 4 minggu. Dengan nilai Inventory Level (ILi) dari tiap-tiap jenis bahan baku bervariasi. Sehingga didapatkan ongkos total persediaan dari model adalah Rp. 16.719.780,54 per tahun. Sedangkan dari hasil uji verifikasi sistem persediaan terhadap data masa lalu didapatkan ongkos total persediaannya adalah Rp. 14.004.933,- per tahun. Adapun total ongkos persediaan berdasarkan sistem yang digunakan oleh perusahaan adalah Rp. 22,915,177.00 per tahun. Jika dilihat dari hasil yang didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa ongkos persediaan berdasarkan hasil rancangan, lebih kecil jika dibandingkan dengan ongkos persediaan berdasarkan metode perusahaan.