// <![CDATA[ANALISIS KEBIJAKAN DAN KEBUTUHAN INDUSTRI KREATIF KERAJINAN DI KOTA BANDUNG]]> 0425127201 - Hendang S. Rukmi, ST,, M.T. Dosen Pembimbing 1 0410126901 - Lisye Fitria, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 AHMAD FAUZAN/13-2004-027 Penulis
Kota Bandung merupakan kota berbasis ekonomi kreatif. Kota berbasis ekonomi kreatif adalah kawasan yang mampu mengembangkan kreatifitas, pengetahuan, inovasi dan pertumbuhan ekonomi yang dapat meningkatkan pendapatan daerah di kota tersebut. Untuk dapat mewujudkan kota Bandung sebagai kota berbasis ekonomi kreatif, kota Bandung harus lebih mengembangkan lagi beberapa bidang industri kreatif yang ada. Industri kreatif dapat didefinisikan sebagai industry yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Departemen Perdagangan RI). Salah satu bidang industri kreatif yang perlu dikembangkan adalah kerajinan. Kerajinan merupakan kegiatan kreatif yang berkaitan dengan kreasi, produksi dan distribusi produk yang dibuat dan dihasilkan oleh tenaga pengrajin yang berawal dari desain awal sampai dengan proses penyelesaian produknya, antara lain meliputi barang kerajinan yang terbuat dari batu berharga, serat alam maupun buatan, kulit, rotan, bambu, kayu, logam (emas, perak, tembaga, perunggu, besi), kaca, kain dan tanah liat. Beberapa kendala yang dialami oleh industri kerajinan saat ini adalah dari segi modal, sumber daya manusia, bahan baku dan dukungan pemerintah terhadap produsen kerajinan yang dirasakan masih kurang. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan apa saja yang dapat mengembangkan industri kerajinan, sehingga dapat menjadi masukan bagi pemerintah kota Bandung dalam menerapkan kebijakan yang tepat untuk mengakomodir kebutuhan-kebutuhan tersebut. Pihak-pihak yang akan dijadikan objek penelitian adalah produsen, konsumen dan pemerintah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis faktor, metode ini dipilih karena dapat menganalisis hubungan-hubungan yang terjadi dalam sekumpulan variabel. Variabel-variabel tersebut akan membentuk faktor baru yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan variabel awal, namun dapat mewakili sebanyak mungkin variabel-variabel yang ada. Dari hasil penelitian terdapat beberapa faktor yang menjadi kebutuhan produsen dan konsumen, untuk produsen kebutuhan tersebut adalah sumber daya manusia, bahan baku, promosi, peralatan, dan dukungan peemerintah, sedangkan untuk konsumen kebutuhan tersebut adalah pembelian dan lokasi, prosedur dan kerjasama, harga dan pelayanan, potongan harga, variasi dan jaminan, serta desain produk. Kebutuhan-kebutuhan tersebut akan dijadikan bahan analisis, dan dikonfirmasikan kepada pihak pemerintah yang selama ini telah memberikan dukungan untuk mengembangkan industri kerajinan yang ada di kota Bandung. Berdasarkan hasil analisis, banyak dukungan dari pemerintah yang belum diketahui dan kurang efektif, sehingga tidak membantu dalam mengembangkan industri kerajinan. Hal ini terlihat dari suku bunga yang besar untuk pinjaman modal, pameran yang tidak menentu, pelatihan yang tidak sesuai, prosedur yang berbelitbelit dan memakan waktu, serta tidak adanya dukungan untuk menstabilkan harga bahan baku yang semakin hari semakin mahal. Untuk dapat mengembangkan industri kerajinan sebaiknya pemerintah mensosialisasikan setiap dukungan/kebijakan yang akan diberikan dan memberikan pelatihan yang tepat untuk menambah keahlian sumber daya manusia, seperti mendatangkan perajin dari luar Indonesia maupun mengadakan seminar-seminar yang dapat menambah ilmu dan kreativitas para perajin lokal khususnya yang ada di kota Bandung agar dapat berkembang dan dapat mewujudkan kota bandung sebagai kota berbasis ekonomi kreatif.