// <![CDATA[ANALISIS PENGEMBANGAN DAN KEBUTUHAN INDUSTRI KREATIF PERFILMAN DI KOTA BANDUNG]]> Brahma Putra A.R / 13-2004-061 Penulis 0425127201 - Hendang S. Rukmi, ST,, M.T. Dosen Pembimbing 1 0410126901 - Lisye Fitria, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat serius dalam membina dan mengembangkan industri kreatif untuk dapat memberikan kontribusi bagi perekonomian bangsa. Saat ini Indonesia tercatat menempati peringkat ke-43 di Economic Creativity Index Ranking yang dipublikasikan oleh World Economic Forum (Departemen Perdagangan RI, 2007). Salah satu kota di Indonesia yang memiliki orientasi untuk industri kreatif adalah Kota Bandung. Salah satu bidang industri kreatif yang perlu dikembangkan adalah industri kreatif perfilman. Industri tersebut meliputi bidang film, video, dan fotografi (Departemen Perdagangan RI, 2007). Bidang ini memiliki prospek cukup baik untuk dapat dikembangkan, akan tetapi beberapa hal dirasakan masih menjadi permasalahan bagi pengembangan industri perfilman di Kota Bandung pada saat ini, diantaranya dari masalah finansial, fasilitas, materi cerita, dan koordinasi yang dilakukan pemerintah terhadap para pelaksana industri kreatif perfilman di Kota Bandung. Perlu dilakukan suatu penelitian secara menyeluruh dan mendetail yang bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan industri kreatif perfilman yang akan menjadi masukan untuk pemerintah Kota Bandung dalam mengeluarkan kebijakan dan strategi pembinaan yang tepat. Oleh karena itu, pada penelitian ini melibatkan 3 pihak yang akan dijadikan objek penelitian, yaitu produsen, konsumen, dan pemerintah. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode analisis faktor. Metode ini adalah suatu metode yang dirancang untuk menganalisis hubungan-hubungan yang terjadi dalam sekumpulan variabel, nantinya akan menghasilkan variabel-variabel baru dan dominan yang selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan dalam menganalisis atau memecahkan masalah. Dari hasil perhitungan, ada 10 faktor baru yang menjadi kebutuhan produsen. Kebutuhan tersebut adalah kerja sama dan peranan pemerintah, kualitas SDM dan dukungan teknis, inovasi produk dan proses eksternal, fasilitas, modal, dan kreativitas, kemudahan operasional sarana pendukung, peranan media internal dan eksternal, produktivitas dan pengembangan teknologi, konsistensi dan eksistensi kerja, kegiatan promosi melalui publikasi jalanan, dan kegiatan promosi dengan kerja sama pihak luar. Dari sudut pandang konsumen terbentuk 6 faktor baru yang menjadi kebutuhan konsumen, yaitu faktor penarik minat konsumen, strategi pemasaran yang dilakukan, cerita film dan media pengenalan produk, jenis kegiatan promosi, peranan pihak lain atau instansi pendukung di luar perusahaan film, dan keanekaragaman produk. Kebutuhan-kebutuhan produsen maupun konsumen yang terpilih tersebut akan dikonfirmasikan kepada produsen dan pemerintah untuk dijadikan acuan sebagai bahan analisis. Analisis dilakukan dengan mengacu dari kebutuhan produsen yang terpilih dan dari persepsi pemerintah mengenai dukungan yang telah diberikan selama ini. Produsen merasakan dukungan dari pemerintah untuk kebutuhan dan pengembangan industri kreatif perfilman masih kurang. Hal ini terlihat dari birokrasi untuk pengajuan bantuan (baik berupa dana atau fasilitas) susah dan lama prosesnya, dan terkadang sosialisasi kepada perusahaan tidak sampai. Dukungan dari pemerintah hanya sekedar izin (izin kegiatan, izin peminjaman tempat/lokasi, dll), tetapi untuk dukungan lain yang dirasa lebih penting (seperti dana, fasilitas, peralatan, dll) produsen masih belum merasakan peranan dari pemerintah. Akibatnya, banyak produsen yang kurang respect dengan pemerintah dan mengusahakan semua kebutuhannya sendiri tanpa bantuan pemerintah.