// <![CDATA[USULAN RANCANGAN BIAYA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BERDASARKAN PENGURANGAN RISIKO MENGGUNAKAN METODE THE RIEL AND IMBEAU ABC]]> DICKI YUSFARINO / 13.2005.045 Penulis 0428096602 - Ir. Yanti Helianty, MT Dosen Pembimbing 1 0430127601 - Arie Desrianty S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
PT. Sepuluh Bina Teknik (PT. SBT) adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan manufaktur. Jenis jasa yang dilakukan PT. SBT yaitu jasa proses elektroplating, maintenance dan reparasi, sedangkan jenis produk yang diproduksi yaitu sparepart mesin produksi, conveyor dan alat produksi. Besarnya anggaran penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) menjadi bagian dari pengeluaran Over Head perusahaan, sehingga semakin besar anggaran SMK3 dapat mempengaruhi harga jual produk. Disamping itu, tingkat kecelakaan kerja yang tinggi pada PT. SBT mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan dalam mengeluarkan biaya Over Head untuk menutupi kerugian yang terjadi, baik dari biaya kecelakaan kerja maupun biaya kerugian produksi. Permasalahan terhadap penerapan SMK3 menuntut perusahaan untuk melakukan perhitungan biaya kecelakaan kerja dengan baik untuk mengetahui besarnya pengeluaran dan memberikan alternatif bagi perusahaan dalam menentukan keputusan agar tidak mempengaruhi pendapatan perusahaan secara signifikan. Langkah-langkah dalam penyelesaian masalah yaitu mengidentifikasi bahaya K3, penilaian risiko 3D model, mengidentifikasi elemen biaya K3 dengan Metode The Riel and Imbeau ABC, dan melakukan perhitungan biaya K3. Proses penilaian risiko menggunakan 3D model merupakan teknik yang digunakan dalam melakukan manajemen risiko pada penerapan permenaker 05/Men/1996. Pada tahapan ini akan ditentukan prioritas tertinggi bahaya potensial yang dapat terjadi dengan mempertimbangkan 3 aspek yaitu paparan, peluang dan konsekuensi terjadinya kecelakaan. Metode The Riel and Imbeau ABC merupakan metode yang digunakan untuk menghitung biaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3), dimana biaya yang diperoleh berdasarkan aktifitas-aktifitas yang terjadi sehingga dapat mengakomodir pengeluaran terhadap kecelakaan kerja secara proporsional. Biaya yang diperoleh setelah dilakukan perhitungan berdasarkan prioritas tertinggi, dapat dijadikan usulan rancangan biaya K3 untuk periode yang akan datang. Hasil yang diperoleh dari penilaian risiko 3D model yaitu aktivitas mengarahkan benda kerja yang akan diratakan pada SK perataan material, dengan bahaya potensial yang ditimbulkan yaitu patah tulang. Jumlah biaya K3 yang dikeluarkan sebelum dilakukan perbaikan sebesar Rp.14.391.393. Proses pengendalian risiko dilakukan untuk memperbaiki SMK3 dalam meminimisasi kecelakaan kerja, dengan prinsip yang digunakan secara hirarki. Pengendalian risiko secara hirarki terdiri dari eleminasi, substitusi, rekayasa teknis, administratif dan penggunaan alat pelindung diri. Berdasarkan kondisi perusahaan saat ini pengendalian risiko yang dapat dilakukan yaitu secara admistratif meliputi mengadakan pelatihan dan pengamanan kerja, rotasi pekerjaan dan supervisi pekerjaan. Pengendalian yang dilakukan secara baik dan terus menerus dapat mengurangi risiko kecelakaan hingga 25 % dengan biaya investasi sebesar Rp. 1.111.429 per tahun, sehingga perhitungan biaya K3 setelah dilakukan perbaikan menjadi Rp. 8.845.393 per kecelakaan. Total biaya K3 sebelum dan setelah perbaikan beserta investasi yaitu Rp.14.391.393 dan Rp.9.956.821. Pada biaya tersebut dapat diketahui tingkat risiko sebelum dilakukan perbaikan sangat mempengaruhi biaya yang harus dikeluarkan perusahaan. Selain itu, selisih nilai dari anggaran biaya perbaikan sebelum dan setelah perbiakan SMK3 dapat dimanfaatkan perusahaan tanpa mengurangi pendapatan perusahaan secara langsung.