// <![CDATA[RANCANGAN STASIUN KERJA KRITIS PADA BAGIAN ASSEMBLY DI PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, TBK BERDASARKAN ANALISIS PLIBEL CHECKLIST]]> FITRIANY SACHRIADI / 13.2005.059 Penulis 0428096602 - Ir. Yanti Helianty, MT Dosen Pembimbing 2 0409066802 - Caecilia Sri Wahyuningsih, Ir., MT. Dosen Pembimbing 1
Pada pekerjaan manual dibutuhkan tenaga manusia yang lebih besar dibandingkandengan pekerjaan yang sudah dapat dilakukan secara otomatis. Risiko terjadinya cidera otot akan jauh lebih besar jika pekerjaan tersebut dilakukan secara berulang-ulang, tidakmemperhatikan posisi saat bekerja, dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Pada perusahaan yang memiliki pekerjaan manual, cidera otot yang disebabkan oleh kondisi di atas merupakan masalah utama yang sering terjadi saat bekerja. Cidera otot akibat bekerja merupakan akumulasi dari kelelahan yang sering terjadi saat bekerja. PT. PRIMARINDO Asia Infrastructure, Tbk merupakan perusahaan yang memproduksi sepatu. Pada perusahaan tersebut terdapat tiga proses yang dilakukan di lantai produksi untuk membuat produk sepatu yaitu upper, bottom, dan assembly yang pada proses pengerjaannya masih banyak pekerjaan yang dilakukan secara manual dan sebagian besar pekerja di perusahaan ini adalah wanita. Bagian assembly adalah bagian yang memiliki stasiun kerja dengan pekerjaan manual paling banyak. Banyaknya proses pekerjaan yang dilakukan secara manual pada bagian assembly maka risiko terjadinya cidera otot pasti terjadi. Identifikasi mengenai faktor risiko cidera otot pada stasiun kerja kritis (stasiun kerja buffing) dilakukan dengan menggunakan metode PLIBEL. Berdasarkan hasil PLIBEL checklist pada stasiun kerja buffing didapat bahwa nilai persentase untuk leher, bahu, dan punggung bagian atas sebesar 23.08%; siku, lengan bawah, dan tangan sebesar 63.64%; kaki sebesar 12.50%; lutut dan pinggul sebesar 12.50%; dan untuk punggung bagian bawah sebesar 9.52%; serta lingkungan kerja sebesar 60%. Nilai persentase tersebut menunjukkan tingkat risiko cidera yang dialami oleh setiap bagian tubuh yang dinilai, sehingga perlu dibuat usulan rancangan perbaikan. Perancangan ulang dilakukan pada fasilitas yang terdapat pada stasiun kerja buffing seperti kursi, meja kerja, dan alat bantu yang digunakan dengan menggunakan pendekatan antropometri. Terdapat dua hasil usulan rancangan perbaikan yaitu kursi dengan posisi front support untuk meja dengan alas datar dan kursi dengan posisi traditional untuk meja dengan alas yang dimiringkan. Nilai yang didapat dari hasil analisis stasiun kerja buffing saat ini dengan menggunakan metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment) adalah 5 yang menunjukkan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan segera diubah. Sedangkan, nilai yang didapat dari hasil analisis kedua usulan rancangan perbaikan stasiun kerja adalah lebih baik yaitu 3 yang menunjukkan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan mungkin dibutuhkanperubahan. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka usulan rancangan perbaikan stasiun kerja dapat dikatakan layak atau dapat diterima karena dapat mengurangi tingkat terjadinya risiko cidera.