// <![CDATA[CITY HOTEL DI JALAN LEMBONG BANDUNG]]> R. RONI GURSALA / 21.2002.088 Dosen Pembimbing 1 Ir. Udjianto Pawitro, MSP. Ir. I PUTU WIDJAJA THOMAS BRUNNER, MM.
Dalam kurun lima tahun terakhir pertumbuhan perekonomian kota Bandung terus terdongkrak naik. Penyebab kondisi yang tengah dialami kota Bandung tidak hanya karena saat ini menjadi salah satu kota tertinggi dikunjungi wisatawan sebagai kota wisata tetapi juga sebagai kota bisnis dan konvensi. Imbas dari kondisi tersebut, julukan “business and leisure” di Bandung menjadi sangat kondang. Kehadiran sektor perdagangan dan jasa mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan sektor lain.1(Pikiran Rakyat, Bisnis Hotel di Bandung Masih Menjanjikan, 30 Maret 2009) . Selain itu, jumlah kunjungan wisatawan ke kota Bandung dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan selalu melampaui target, jumlah kedatangan wisatawan ke kota Bandung setiap pekannya mencapai 50.000 orang dan setiap tahunnya ratarata mencapai 2 juta orang. Jumlah tersebut, 1,93 juta diantaranya wisatawan domestik dan 94.600 orang merupakan turis mancanegara. Tingkat hunian kamar hotel juga setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Dibandingkan tahun 2005, pada tahun 2007 terjadi peningkatan kira-kira mencapai 15%. Dengan 251 hotel yang ada saat ini, kota Bandung masih kewalahan menampung “serangan” wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang begitu tinggi saat akhir pekan (weekend). Okupansi saat weekend tersebut bisa mencapai 90%-95% di setiap level hotel, baik berbintang butik, bahkan melati sekalipun.Jika memasuki libur akhir pekan yang panjang (long weekend), tawaran daftar tunggu (waiting list) atau bahkan tidak kebagian kamar pun tak urung menjadi masalah yang sering dihadapi oleh para wisatawan.2 Sementara, Wali Kota Bandung Dada Rosada mengaku, merujuk pada pengalaman saat peringatan Konferensi Asia Afrika Ke-50 tahun 2005, Kota Bandung tidak mampu mengoptimalkan potensi pendapatan yang mungkin diraih dari sektor restoran dan hotel. Akibat keterbatasan jumlah hotel, tamu VIP atau kepala negara yang menghadiri acara tersebut hanya singgah beberapa jam di Kota Bandung. Sedangkan, pada prinsipnya pemkot setuju dengan rencana kebijakan pembatasan jumlah hotel. Hanya, hal itu tidak dapat dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebab, jumlah kamar hunian dan hotel berkelas di Kota Bandung saat ini belum memenuhi kebutuhan. Berdasarkan data yang ada, Kota Bandung masih butuh sekitar 2.000 kamar hotel. Setelah kebutuhan ini terpenuhi, jumlah hotel akan dibatasi dengan pembatasan izin pembangunan hotelhotel baru. Dada menyatakan sependapat dengan usulan Ketua DPRD Kota Bandung Erwan Setiawan, yakni lebih memfokuskan diri pada peningkatan kualitas dan kelas hotel di Kota Bandung. ”Rencana meningkatkan kualitas, fasilitas hotel-hotel yang sudah ada saat ini, itu juga baik sebagai salah satu upaya memenuhi kebutuhan kamar dan hotel di Kota Bandung,” katanya. 3 Dikarenakan tuntutan akan kebutuhan tempat menginap untuk para wisatawan yang semakin mendesak dan potensi bisnis di daerah Asia Afrika, maka jalan Lembong sebagai salah satu jalan utama menuju kawasan Asia Afrika memiliki peranan yang cukup besar, maka di di jalan tersebut dibutuhkan penambahan hotel baru dengan konsep City Hotel yang berfungsi sebagai tempat akomodasi penginapan bagi para wisatawan dan pebisnis yang ingin tinggal sementara waktu di kota Bandung khususnya di Kawasan Pusat Kota Bandung. Diharapkan dengan penambahan hotel ini bisa semakin menambah daya tampung penginapan bagi para wisatawan yang berwisata di kota Bandung terutama saat menghadapi liburan panjang ataupun libur akhir pekan. City Hotel yang direncanakan, akan memiliki fasilitas yang dapat menunjang kegiatan wisatawan selama berwisata dan berbisnis. Konsep City Hotel itu sendiri adalah berkonsep arsitektur modern, yaitu konsep bangunan yang berwawasan pada teknologi dunia Arsitektur yang dapat dibanggakan di kota Bandung. Lokasi yang ditetapkan adalah dikawasan jalan Lembong Bandung.