// <![CDATA[PENINGKATAN KUALITAS BAJA LEMBARAN DINGIN DENGAN METODE FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (STUDI KASUS DI PT. KRAKATAU STEEL (PERSERO) CILEGON)]]> RAKA ANANDA PUTRA / 13.2005.048 Penulis 0430127601 - Arie Desrianty S.T., M.T. Dosen Pembimbing 1 0425107701 - Hendro Prassetiyo, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
PT. Krakatau Steel adalah salah satu perusahaan BUMN milik pemerintah yang bergerak dalam bidang industri baja. Berbagai macam produk baja yang dihasilkan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam dan luar negeri, salah satunya adalah produk baja lembaran dingin yang diproduksi di Divisi Cold Rolling Mill. Persaingan antara pasar domestik dengan internasional menyebabkan perusahaan harus lebih ekstra hati-hati dalam memantau produk-produk yang dihasilkannya. Oleh karena itu pengendalian kualitas terhadap baja lembaran dingin tersebut sangat ketat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas baja nasional untuk pasar dalam negeri dan di luar negeri. Pabrik ini menghasilkan produk baja lembaran dingin / cold rolled coil (CRC) dengan 14 jenis Quality Code. Produk CRC dengan quality code yang memiliki jumlah tonnage cacat terbesar pada periode Januari – September 2009 dengan nilai 21,68 % adalah Commercial Quality Unannealing (CQUN). Pada saat ini masih terdapat adanya defect (cacat) pada produk yang dihasilkan. Jenis cacat yang sering terjadi adalah jenis shape defect (cacat pada bentuk lembaran baja) berupa wavy edge, centre buckle,dan ripple edge serta surface defect (cacat pada permukaan lembaran baja) berupa roll mark, pick up, dan edge crack. Jenis-jenis cacat ini dapat terjadi pada stasiun kerja TCM (Tandem Cold Mill) yang fungsinya adalah untuk melakukan proses pengerolan baja dengan menipiskan ketebalan baja dan untuk menghasilkan sifat-sifat mekanik pada baja serta stasiun kerja CPL (Continous Pickling Line) yang fungsinya adalah untuk mencegah ketidakseragaman dan untuk menghilangkan ketidakteraturan permukaan strip serta pada stasiun kerja lain. Untuk itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebab dari cacat tersebut. Tahap pertama yang dilakukan untuk menganalisis penyebab failure mode adalah dengan menggunakan fishbone diagram untuk dapat mengetahui faktor-faktor penyebab failure mode yang mengakibatkan cacat tersebut terjadi pada CQUN. Langkah selanjutnya adalah penggunaan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk meminimumkan cacat yang terjadi pada CQUN. Hasil dari perhitungan dengan menggunakan FMEA adalah Risk Priority Number (RPN) pada tiap jenis failure mode. Hasil analisis dari penggunaan metode FMEA adalah dengan menganalisis faktor penyebab failure mode dengan nilai RPN tertinggi pada tiap cacat adalah thermal crown untuk defect wavy edge, akibat dari bad shape untuk defect mandril kink, mix grain di bagian tepi untuk edge crack, thermal crown untuk defect pocket dan water carry over untuk defect oil stain. Untuk melakukan analisis perbaikan terhadap penyebab failure mode, dilakukan dengan menggunakan pareto chart sehingga terlihat 80 % dari penyebab failure mode yang dapat menimbulkan cacat. Perbaikan yang dilakukan meliputi perbaikan sistem pengaturan proses produksi, pergantian alat, dan pergantian standard. Solusi dari hasil analisis terhadap penyebab failure mode hasil analisis dengan nilai RPN tertinggi adalah nilai RPN menjadi menurun