MODEL PENENTUAN PERSEDIAAN DAN JUMLAH SERVER PADA SISTEM DUA LEVEL DENGAN KRITERIA MINIMISASI TOTAL ONGKOS
Investasi pada mesin yang kompleks dan mahal mengakibatkan pengoperasian mesin perlu dijaga. Perawatan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap usaha mempertahankan kinerja mesin, meningkatkan kualitas hasil akhir suatu produk, dan menekan biaya produksi. Perawatan pada mesin dapat dilakukan dengan mengganti komponen mesin yang rusak dan memperbaikinya. Proses penggantian komponen membutuhkan waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan proses perbaikan. Akantetapi permasalahan yang akan timbul dari pergantian komponen adalah jumlah persediaan optimal komponen yang baik untuk mengganti komponen yang rusak. Semakin banyak komponen baik yang disediakan, pemenuhan permintaan akan komponen tersebut akan semakin cepat. Namun persediaan yang banyak akan mengakibatkan meningkatnya ongkos simpan yang dikeluarkan perusahaan. Kecepatan perbaikan komponen rusak ditentukan berdasarkan operator (server) yang memperbaikinya. Semakin cepat server memperbaiki produk, penyediaan komponen akan semakin baik Penelitian ini membahas tentang model penentuan jumlah persediaan dan server pada sistem dua level dengan kriteria minimisasi total ongkos. Penentuan jumlah persediaan dan server ini saling terkait (dependent). Hal ini berarti jumlah server yang tersedia di bengkel mempengaruhi persediaan yang akan diterima pabrik dari bengkel. Penelitian ini terbagi atas dua level yaitu bengkel dan pabrik. Bengkel merupakan tempat perbaikan komponen rusak dengan kapasitas terbatas sesuai server yang tersedia. Sedangkan pabrik merupakan tempat penggantian komponen dengan permasalahan penentuan persediaan berdasarkan ekspektasi backorder. Jika bengkel tidak mampu menyediakan komponen baik ke pabrik, maka pabrik akan melakukan outsourcing untuk memenuhi permintaan tersebut. Formulasi model sendiri dibagi kedalam dua tahapan, yang pertama penentuan kapasitas bengkel menyuplai komponen baik yang ditentukan berdasarkan jumlah server yang tersedia. Tahap kedua adalah menentukan ekspektasi backorder di pabrik yang kemudian akan menjadi jumlah outsourcing yang dilakukan pabrik untuk memenuhi permintaan. Penyelesaian model dilakukan dengan melakukan simulasi terhadap model dengan data hipotetik tertentu. Kemampuan dan perilaku model diuji melalui analisis sensitivitas dengan melihat pengaruh dari parameter ongkos. Dengan perubahan sedikit variabel keputusan mengalami perubahan yang signifikan.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2011).MODEL PENENTUAN PERSEDIAAN DAN JUMLAH SERVER PADA SISTEM DUA LEVEL DENGAN KRITERIA MINIMISASI TOTAL ONGKOS ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.MODEL PENENTUAN PERSEDIAAN DAN JUMLAH SERVER PADA SISTEM DUA LEVEL DENGAN KRITERIA MINIMISASI TOTAL ONGKOS ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
MLA Style
.MODEL PENENTUAN PERSEDIAAN DAN JUMLAH SERVER PADA SISTEM DUA LEVEL DENGAN KRITERIA MINIMISASI TOTAL ONGKOS ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
Turabian Style
.MODEL PENENTUAN PERSEDIAAN DAN JUMLAH SERVER PADA SISTEM DUA LEVEL DENGAN KRITERIA MINIMISASI TOTAL ONGKOS ().Teknik Industri:FTI,2011.Text