// <![CDATA[TINGKAT KEWASPADAAN PENGENDARA MOTOR USIA MUDA DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN QUANTITATIVE ANALYSIS OF SITUATIONAL AWARENESS (QUASA)]]> Arnindya Driyar M / 13-2007-038 Dosen Pembimbing 1 Arie Desrianty, S.T., M.T. Caecillia S. W., Ir., M.T.
Sepeda motor menempati urutan pertama jumlah kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kota Bandung. Sebagian besar pengendaranya adalah pengendara berusia antara 16-25 tahun, mereka dianggap masih memiliki tingkat kewaspadaan yang kurang. Pengukuran tingkat kewaspadaan salah satunya dengan menggunakan probe technique yaitu dengan metode Quantitative Analysis Of Situational Awareness (QUASA). QUASA diterapkan untuk mengukur tingkat kewaspadaan pengendara motor usia muda di kota Bandung dengan 100 responden yang diminta untuk memberikan penilaian terhadap 25 pernyataan. Pernyataan yang diajukan adalah seputar perilaku berkendara yang berisiko ( berdasarkan Driver Manchester Behaviour Questionaire) dan karakteristik individu (berdasarkan Wong, et al (2010)). Responden adalah warga kota Bandung yang berusia antara 18-25 tahun yang telah memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) dan aktif menggunakan sepeda motor minimal sselama satu tahun. Data yang diperoleh kemudian dikalibrasi tingkat kewaspadaan yang dimiliki oleh pengendara motor usia muda di kota Bandung dengan membandingkan perceived accuracy dan actual accuracy. Hasil kalibrasi sitational awareness pengendara motor usia muda di kota Bandung terletak pada overconfident area. Hal tersebut berarti bahwa pengendara motor usia muda cenderung berkendara dengan cara yang membahayakan dirinya dan pengguna jalan lainnya karena merasa tingkat kewaspadaannya sudah baik sedangkan pada kenyataannya mereka cenderung tidak waspada saat berkendara. Hasil kalibrasi situational awareness tersebut kemudian di analisis dengan mengggunakan Signal Detection Theory (SDT). Pada Receiver-Operating Characteristic Curve dapat dilihat bahwa pengendara motor usia muda di kota Bandung cenderung dapat menilai suatu pernyataan dengan tepat. Hal tersebut didukung dengan hasil sensitivitas dan bias yang dimiliki pengendara motor usia muda di kota Bandung cukub baik. Artinya, pengendara motor usia muda di kota Bandung dapat membedakan antara sinyal dan gangguan serta dapat menghadapi rangsangan yang bersifat meragukan. Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa tingkat kewaspadaan pengendara motor usia muda di kota Bandung kurang baik. Hasil jawaban kuesioner menunjukan pengendara motor usia muda di kota Bandung cenderung suka mencari sensasi saat berkendara. Hal ini disebabkan karena pengendara motor merasa memiliki harga diri yang tinggi. Rekomendasi ditujukan kepada Satuan Lalu Lintas Kepolisian Kota Bandung, Dinas Perhubungan kota Bandung, Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, keluarga dan orang tua serta masyarakan transportasi Indonesia agar bekerja sama untuk mengurangi tingkat kecelakaan pengendara sepeda motor usia muda di kota Bandung.