// <![CDATA[TINGKAT KELELAHAN SUPIR SHUTTLE SERVICE BERDASARKAN KADAR KORTISOL DALAM DARAH DAN NASA-TLX (TASK LOAD INDEX)]]> IRSAL KARIM / 13.2007.112 Dosen Pembimbing 1 Arie Desrianty, S.T., M.T. Caecillia S. W., Ir., M.T.
Layanan jasa transportasi darat semakin tahun semakin meningkat. Layanan jasa transportasi darat ini banyak diminati masyarakat. Masyarakat menggunakan layanan jasa transportasi darat untuk bepergian ke luar atau ke dalam kota, karena masyarakat ingin merasa nyaman dan tidak perlu mengeluarkan energi ketika melakukan perjalanan. Adapun jenis-jenis layanan jasa transportasi darat itu seperti kereta api, bus, dan shuttle service (travel). Kendaraan shuttle service merupakan kendaraan umum yang sering ditemui di jalan raya dan sangat diminati oleh masyarakat. Shuttle service sangat diminati karena sistem yang digunakan adalah sistem pool to pool dan point to point. Sistem pool to pool ini adalah sistem yang awalnya berangkat dari pool keberangkatan menuju pool tempat tujuan, sedangkan sistem point to point adalah sistem yang awalnya menjemput di point tertentu dan mengantarkannya ke point tertentu. Shuttle service dari tahun ke tahun semakin meningkat, karena minat masyarakat semakin tinggi. Peningkatan ini membuat jalan raya menjadi semakin padat, sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan di jalan raya semakin besar. Meister (1987) mendefinisikan sebuah kecelakaan adalah sebagai peristiwa yang tidak terduga yang dapat merusak sistem dan/atau individu atau dapat mempengaruhi pencapaian dari misi sistem atau tugas individu. Menurut data POLRI yang telah diolah kembali oleh Direktorat Keselamatan Transportasi Darat, kecelakaan kendaraan shuttle service yang terjadi dari tahun 2004 sampai 2009 mempunyai nilai rata-rata peningkatan sebesar 34,87%. Mayoritas kecelakaan kendaraan shuttle service diakibatkan oleh kelelahan yang terjadi pada supir pada saat mengemudi (Situs Tempo Interaktif, 2010). Kelelahan dapat menyebabkan kesulitan konsentrasi dalam bekerja, sehingga meningkatkan kesalahan dalam bekerja (human error) dan akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja. Salah satu faktor yang memungkinkan terjadinya kelelahan dalam bekerja adalah pembagian jam kerja yang telah diterapkan. Travel X merupakan layanan jasa transportasi angkutan darat yang terdapat di Bandung. Jurusan yang terdapat pada Travel X ini adalah Bandung-Jakarta dan Jakarta- Bandung. Sistem yang diterapkan Travel X adalah sistem pool to pool. Terdapat 3 pool di Bandung yaitu Dipatiukur, Cihampelas, dan Pasteur, sedangkan di Jakarta terdapat 6 pool yaitu Kelapa Gading, Bintaro, Tomang, Sudirman, Fatmawati, dan Mangga Dua. Jam kerja yang diterapkan perusahaan untuk supir yaitu pagi, siang, sore, dan malam, sedangkan dalam pembagian jam kerjanya, perusahaan tidak menerapkannya. Pembagian jam kerja yang terjadi pada Travel X tidak teratur, sehingga dampak yang terjadi akibat dari pembagian jam kerja yang tidak teratur ini adalah waktu istirahat yang pada supir tersebut menjadi tidak menentu. Hal ini didapat dari hasil wawancara terhadap supir dan pihak manajemen. Ketika supir tersebut posisi awal berada di Bandung, maka sesampainya di Jakarta, supir tersebut apabila ingin kembali ke Bandung tergantung dari jumlah armada yang terdapat di pool tersebut. Apabila jumlah armada yang terdapat di pool tersebut sedikit, maka waktu istirahat yang dibutuhkan oleh supir tersebut untuk kembali ke Bandung hanyalah sebentar. Akan tetapi, apabila jumlah armada yang terdapat di pool tersebut banyak, maka supir tersebut memiliki banyak waktu untuk istirahat.