PENINGKATAN KUALITAS PRODUK E-CLIPS R.54 MENGGUNAKAN METODE PROCESS FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (PFMEA) ( STUDI KASUS DI PT. PINDAD)
PT.PINDAD (persero) merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang manufaktur. Berdasarkan jenisnya produk PT.PINDAD dapat dikelompokan menjadi 2 (dua), yaitu produk militer dan produk komersial. Salah satu produk yang dihasilkan pada bidang komersial adalah ECLIPS R.54 yang berfungsi sebagai penjepit rel kereta api. Seiring dengan perkembangan jaman banyak sekali pesaing yang memproduksi jenis yang sama. Hal tersebut dapat memicu persaingan antar perusahaan untuk menarik para pelanggan. Oleh karena itu, agar dapat bertahan dalam persaingan tersebut PT.PINDAD (Persero) harus meningkatkan kualitas dari produk sehingga pelanggan merasa puas dengan produk yang ditawarkan. Kualitas produk yang baik dapat dilihat dari tidak terdapatnya cacat terhadap benda yang diproduksi, karena dengan adanya produk cacat dapat menurunkan harga beli, biaya produksi yang tinggi dan kehilangan pelanggan yang akhirnya akan merugikan perusahaan. PT.PINDAD pada saat ini sedang memproduksi komponen-komponen untuk kereta api, yaitu E-CLIPS R.54 dan E-CLIPS R.42. Produk yang menghasilkan persentase cacat paling besar adalah E-CLIPS R.54 yaitu sebesar 9.753. Produk cacat yang dihasilkan produk E-CLIPS R.54 terdapat beberapa jenis yaitu cacat dimensi, cacat bentuk/ visual dan cacat gap. Cacat yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya adalah kesalahan manusia dan mesin. Berdasarkan keterangan bagian quality control Stasiun Kerja (SK) Bending paling banyak menghasilkan kegagalan produk. Stasiun kerja bending adalah proses utama dalam pembentukan ECLIPS R.54 yang terdiri dari 3 phase. Phase pertama yaitu pembuatan produk setengah U, phase kedua bentuk U melingkar dan phase terakhir bentuk E. Untuk mengetahui penyebab kegagalan maka diperlukan penelitian lebih lanjut. Untuk mengatasi masalah kegagalan tersebut, maka dibutuhkan suatu metode yang dapat memberikan usulan perbaikan untuk meningkatkan kualitas. Tahap-tahap yang dilakukan yaitu mengidentifikasi jenis-jenis kegagalan (failure mode), menganalisis potensial effect dari kegagalan tersebut, mengindentifikasi penyebab-penyebab kegagalan dengan menggunakan fishbone, penentuan rating severity, penentuan rating occurance, dilakukan pengendalian proses (prevention), penentuan rating detection, dan terakhir penentuan nilai risk priority number (RPN). Dengan menggunakan metode process failure mode effect analisys (PFMEA) maka didapatkan nilai RPN terbesar dari setiap cacat yang terjadi. Hasil RPN tertinggi yang didapatkan pada salah penyetingan awal untuk cacat dimensi proses slip, cetakan/ dies longgar untuk cacat dimensi proses bending, cetakan longgar untuk cacat bentuk/ visual dan dies/ cetakan aus untuk cacat gap. Setelah diketahui nilai RPN yang tertinggi maka dilakukan analisis penyebab dari cacat tersebut setelah itu diurutkan persentase terbesar berdasarkan diagram pareto sehingga didapatkan 80% masalah kegagalan dan 20% penyebab kegagalan. Setelah dilakukan analisis dengan bantuan diagram pareto maka dilakukan usulan perbaikan untuk setiap cacat, sehingga didapat RPN baru untuk masing-masing cacat.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2011).PENINGKATAN KUALITAS PRODUK E-CLIPS R.54 MENGGUNAKAN METODE PROCESS FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (PFMEA) ( STUDI KASUS DI PT. PINDAD) ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.PENINGKATAN KUALITAS PRODUK E-CLIPS R.54 MENGGUNAKAN METODE PROCESS FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (PFMEA) ( STUDI KASUS DI PT. PINDAD) ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
MLA Style
.PENINGKATAN KUALITAS PRODUK E-CLIPS R.54 MENGGUNAKAN METODE PROCESS FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (PFMEA) ( STUDI KASUS DI PT. PINDAD) ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
Turabian Style
.PENINGKATAN KUALITAS PRODUK E-CLIPS R.54 MENGGUNAKAN METODE PROCESS FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS (PFMEA) ( STUDI KASUS DI PT. PINDAD) ().Teknik Industri:FTI,2011.Text