// <![CDATA[MODEL SIMULASI BERBASIS AGEN PADA SEKTOR PETERNAKAN AYAM]]> Ir. Yuniar, M.T. Cahyadi Nugraha, S.T., M.T. ANGGA NURDIANSYAH / 13 – 2007 - 015 Penulis
Sistem peternakan ayam merupakan subsektor ekonomi yang potensial karena merupakan salah satu kebutuhan pokok yang cukup banyak diminati masyarakat. Banyaknya pelaku tataniaga menyebabkan sistem tersebut menjadi rumit untuk dilakukan analisis. Sehingga dibutuhkan alat bantu dalam melakukan analisis, salah satunya dengan cara simulasi. Terdapat salah satu metoda simulasi, yaitu Agent Based Modeling and Simulation (ABMS) yang merupakan sebuah pendekatan baru dalam memodelkan suatu sistem yang besifat otonom dan terdiri dari agen-agen yang saling berinteraksi. ABMS dianggap lebih mampu untuk menganalisis permasalahan sistem yang memiliki banyak objek. ABMS dapat menjadi alternatif solusi untuk menganalisis sistem peternakan ayam tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan model simulasi berbasis agen di sektor ekonomi peternakan ayam. Model yang dihasilkan merupakan model yang memiliki perilaku yang logis dan sesuai dengan kondisi nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam melakukan analisis. Tahapan dalam mengembangkan model ini diawali dengan melakukan identifikasi sistem peternakan ayam. Hal ini dilakukan untuk mengetahui aktifitas sistem nyata secara keseluruhan untuk kemudian diterapkan ke dalam model. Langkah berikutnya adalah menentukan penentuan ukuran performansi dan variabel keputusan. Ukuran performansi merupakan aspek yang mengukur seberapa baik performansi sistem tersebut dari variabel keputusan yang dirancang. Ukuran performansi pada model ini diantaranya profit yang diperoleh setiap agen, ketersediaan ayam pada setiap jenis agen, dan tingkat belanja masyarakat. Sementara variabel keputusan merupakan variabel yang dapat diubah-ubah dan disesuaikan oleh pengambil keputusan (controlable input). Variabel keputusan yang tersedia pada model ini diantaranya batas standar harga jual pada setiap agen, infrastruktur transportasi suatu wilayah, serta pengontrolan harga pengecer oleh pihak perancang kebijakan. Langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi agen. Agen merupakan komponen pada sistem yang umumnya dapat melakukan pengambilan keputusan. Identifikasi ini diperlukan untuk mengetahui kuantitas komponen yang teridentifikasi pada sistem tersebut. Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan identifikasi atribut dan perilaku agen. Atribut merupakan suatu nilai atau keterangan yang melekat pada setiap agen. Sementara perilaku agen merupakan perilaku yang dilakukan oleh setiap agen secara independent baik mandiri, maupun dengan berinteraksi dengan agen lainnya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sifat dan perilaku setiap agen yang berada di dalam sistem peternakan ayam tersebut. Langkah selanjutnya adalah melakukan parameterisasi terhadap model. Selain variabel keputusan, data-data parameter merupakan data input yang tidak dapat dikontrol oleh pengambil keputusan (uncontrolable input). Perancangan program merupakan tahap menerapkan berbagai identifikasi ke dalam bahasa program, sehingga dapat dilakukan simulasi terhadap model tersebut. Setelah selesai melakukan pemrograman, langkah selanjutnya adalah melakukan verifikasi. Verifikasi merupakan tahap pemeriksaan terhadap program agar berjalan sebagaimana mestinya. Langkah selanjutnya adalah dengan melakukan validasi terhadap program. Validasi dilakukan menjadi 4 skenario yang berbeda. Validasi merupakan tahap pengujian model untuk membuktikan bahwa output model yang dihasilkan sesuai dengan logika. Langkah berikutnya adalah memberikan contoh penggunaan pada model. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan contoh penggunaan model agar user dapat lebih mudah dalam menggunakannya. Setelah dilakukan beberapa kali pengujian pada model, dapat dikatakan bahwa model yang dirancang sesuai dengan pendekatan pada sistem nyata, sehingga model yang dirancang dapat dianggap valid dan dapat digunakan pada sistem nyata. Dalam menentukan kebijakan, setidaknya perancang kebijakan membuat 2 opsi yang berbeda, sehingga dapat menjadi acuan untuk melakukan pengambilan keputusan. Setelah langkah-langkah tersebut dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa telah dihasilkan model simulasi berbasis agen di sektor ekonomi peternakan ayam yang dapat menjadi alat bantu bagi perancang kebijakan dalam membuat keputusan, khususnya pada sektor tersebut.