// <![CDATA[USULAN PERBAIKAN PENGELOLAAN SHUTTLE SERVICE JURUSAN BANDUNG-JAKARTA BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB STRESS KERJA PADA SUPIR]]> TAUFIK SEPTIAN KRISTIANTO / 13-2007-055 Dosen Pembimbing 1 Arie Desrianty, ST., MT. Ir. Yuniar, MT.
Kecelakaan kendaraan shuttle service dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Kecelakaan ini mayoritas terjadi karena adanya kesalahan supir saat mengendalikan kemudi. Kesalahan tersebut terjadi karena kurangnya tingkat konsentrasi pada saat mengemudikan kendaraan. Penurunan tingkat konsentrasi ini dapat diakibatkan oleh stress kerja yang dialami oleh supir. Stress kerja yang dialami oleh supir dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, yaitu desain tugas yang rumit, gaya manajemen yang tidak sesuai, hubungan interpersonal yang buruk, kekhawatiran karir, dan kondisi lingkungan yang tidak optimal. Stress kerja dapat mengakibatkan terjadinya penurunan pada prestasi kerja, terjadinya kesalahan dalam bekerja, dan peningkatan ketidakhadiran dalam bekerja. Perilaku negatif tersebut dapat mengakibatkan timbulnya kerugian bagi pihak perusahaan. Untuk dapat mencegah terjadinya stress kerja, maka perlu dilakukan proses identifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab stress kerja. Proses identifikasi faktorfaktor penyebab stress kerja dilakukan dengan menggunakan alat ukur berupa kuesioner NIOSH. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan proses identifikasi faktor yang menjadi pemicu terjadinya stress kerja dengan menggunakan kuesioner NIOSH dan memberikan usulan perbaikan pengelolaan shuttle service berdasarkan faktor dominan pemicu terjadinya stress kerja. Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penyebaran kuesioner penelitian NIOSH kepada supir sebagai responden. Data yang dikumpulkan adalah data jawaban responden mengenai setiap item-item pertanyaan dari 19 faktor yang ada dalam kuesioner NIOSH. Tahap awal yang dilakukan sebelum melakukan pengolahan data adalah reverse score. Reverse score ini bertujuan untuk mengarahkan jawaban kepada arah yang sama. Pengolahan data dilakukan terhadap data hasil penyebaran kuesioner. Pengolahan data dilakukan dengan melakukan perhitungan modus terhadap faktor pemicu stress yang memiliki dua skala dan perhitungan rata-rata terhadap faktor pemicu stress yang memiliki empat skala. Berdasarkan perhitungan nilai modus dan nilai rata-rata, maka dapat diketahui bahwa terdapat empat faktor utama yang menjadi faktor dominan pemicu terjadinya stress kerja. Empat faktor tersebut adalah faktor lingkungan fisik dengan nilai modus 1, faktor beban kerja dan tanggung jawab dengan nilai rata-rata 2,987, faktor masalah di tempat kerja dengan nilai rata-rata 2,744, dan faktor dukungan sosial dengan nilai ratarata 2,876. Berdasarkan faktor dominan pemicu terjadinya stress kerja, maka dapat dilakukan perbaikan yaitu melakukan perbaikan pada lingkungan fisik tempat kerja meliputi perbaikan fisik kabin mobil dan perbaikan tempat istirahat supir, menentukan pembagian kerja yang jelas meliputi banyaknya pengantaran yang dilakukan dan penentuan jam kerja, pihak manajemen sebaiknya memberikan reward pada supir baik dalam bentuk uang, makanan, maupun bantuan beasiswa bagi anak supir dan melakukan pertemuan rutin dengan supir yang bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai permasalahan yang terjadi.