USULAN PERBAIKAN PENGELOLAAN SHUTTLE SERVICE JURUSAN BANDUNG-JAKARTA BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB STRESS KERJA PADA SUPIR
Kecelakaan kendaraan shuttle service dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan. Kecelakaan ini mayoritas terjadi karena adanya kesalahan supir saat
mengendalikan kemudi. Kesalahan tersebut terjadi karena kurangnya tingkat
konsentrasi pada saat mengemudikan kendaraan. Penurunan tingkat konsentrasi ini
dapat diakibatkan oleh stress kerja yang dialami oleh supir. Stress kerja yang dialami
oleh supir dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, yaitu desain tugas yang rumit, gaya
manajemen yang tidak sesuai, hubungan interpersonal yang buruk, kekhawatiran karir,
dan kondisi lingkungan yang tidak optimal.
Stress kerja dapat mengakibatkan terjadinya penurunan pada prestasi kerja,
terjadinya kesalahan dalam bekerja, dan peningkatan ketidakhadiran dalam bekerja.
Perilaku negatif tersebut dapat mengakibatkan timbulnya kerugian bagi pihak
perusahaan. Untuk dapat mencegah terjadinya stress kerja, maka perlu dilakukan proses
identifikasi faktor-faktor yang menjadi penyebab stress kerja. Proses identifikasi faktorfaktor
penyebab stress kerja dilakukan dengan menggunakan alat ukur berupa kuesioner
NIOSH.
Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan proses
identifikasi faktor yang menjadi pemicu terjadinya stress kerja dengan menggunakan
kuesioner NIOSH dan memberikan usulan perbaikan pengelolaan shuttle service
berdasarkan faktor dominan pemicu terjadinya stress kerja. Pengumpulan data
dilakukan dengan cara melakukan penyebaran kuesioner penelitian NIOSH kepada
supir sebagai responden. Data yang dikumpulkan adalah data jawaban responden
mengenai setiap item-item pertanyaan dari 19 faktor yang ada dalam kuesioner NIOSH.
Tahap awal yang dilakukan sebelum melakukan pengolahan data adalah reverse score.
Reverse score ini bertujuan untuk mengarahkan jawaban kepada arah yang sama.
Pengolahan data dilakukan terhadap data hasil penyebaran kuesioner. Pengolahan data
dilakukan dengan melakukan perhitungan modus terhadap faktor pemicu stress yang
memiliki dua skala dan perhitungan rata-rata terhadap faktor pemicu stress yang
memiliki empat skala.
Berdasarkan perhitungan nilai modus dan nilai rata-rata, maka dapat diketahui
bahwa terdapat empat faktor utama yang menjadi faktor dominan pemicu terjadinya
stress kerja. Empat faktor tersebut adalah faktor lingkungan fisik dengan nilai modus 1,
faktor beban kerja dan tanggung jawab dengan nilai rata-rata 2,987, faktor masalah di
tempat kerja dengan nilai rata-rata 2,744, dan faktor dukungan sosial dengan nilai ratarata
2,876.
Berdasarkan faktor dominan pemicu terjadinya stress kerja, maka dapat
dilakukan perbaikan yaitu melakukan perbaikan pada lingkungan fisik tempat kerja
meliputi perbaikan fisik kabin mobil dan perbaikan tempat istirahat supir, menentukan
pembagian kerja yang jelas meliputi banyaknya pengantaran yang dilakukan dan
penentuan jam kerja, pihak manajemen sebaiknya memberikan reward pada supir baik
dalam bentuk uang, makanan, maupun bantuan beasiswa bagi anak supir dan melakukan
pertemuan rutin dengan supir yang bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai
permasalahan yang terjadi.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2011).USULAN PERBAIKAN PENGELOLAAN SHUTTLE SERVICE JURUSAN BANDUNG-JAKARTA BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB STRESS KERJA PADA SUPIR ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.USULAN PERBAIKAN PENGELOLAAN SHUTTLE SERVICE JURUSAN BANDUNG-JAKARTA BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB STRESS KERJA PADA SUPIR ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
MLA Style
.USULAN PERBAIKAN PENGELOLAAN SHUTTLE SERVICE JURUSAN BANDUNG-JAKARTA BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB STRESS KERJA PADA SUPIR ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
Turabian Style
.USULAN PERBAIKAN PENGELOLAAN SHUTTLE SERVICE JURUSAN BANDUNG-JAKARTA BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB STRESS KERJA PADA SUPIR ().Teknik Industri:FTI,2011.Text