// <![CDATA[MODEL SIMULASI BERBASIS AGEN UNTUK AKTIVITAS BISNIS PETERNAKAN SAPI PERAH]]> MUHAMMAD RAHADI PRASETYA / 13-2007-070 Dosen Pembimbing 1 Ir. Yuniar, M.T. Cahyadi Nugraha, S.T., M.T.
Bisnis peternakan sapi perah adalah bisnis yang sangat menjanjikan di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia yang masih lebih rendah yaitu 11 l/kapita/tahun, dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang tingkat konsumsi susunya mencapai 36 l/kapita/tahun. Selain itu tingkat permintaan susu di tingkat produsen tidak pernah menyusut, malah selalu meningkat, hal ini dapat dilihat dari pemenuhan kebutuhan bahan baku susu di Indonesia 70% masih harus diimpor dari Selandia Baru dan Australia (Wardhani, 2011). Walaupun bisnis sapi perah memiliki prospek bisnis yang bagus, bisnis ini membutuhkan perencanaan yang matang, karena pada bisnis ini yang menjadi objek perdagangan adalah susu sapi yang dihasilkan oleh sapi hidup. Perencanaan yang matang sudah tentu dibutuhkan oleh peternakan, seperti jumlah pakan, obat-obatan , dan berbagai kebutuhan lainnya. Perencanaan sangat penting untuk memprediksi tingkat produksi, biaya dan pendapatan di masa yang akan datang. Segala kegiatan dalam perencanaan peternakan sapi perah membutuhkan data populasi sapi di peternakan untuk setiap periodenya. Sistem populasi sapi di peternakan bergerak secara dinamis dan tidak dapat didekati secara linear, oleh karena itu dibutuhkan suatu model yang dapat menyederhanakan sistem yang kompleks tersebut. Salah satu cara untuk memodelkan sistem yang kompleks itu adalah dengan menggunakan model simulasi. bahkan dalam Firman (2010) simulasi populasi sapi perah dilakukan secara manual sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan perhitungan, selain itu ada faktor-faktor ketidakpastian, misalnya penyakit, ketersediaan pangan, dan sebagainya. Model simulasi digunakan untuk mengetahui populasi sapi yang bergerak secara dinamis di peternakan dan hasil dari simulasi tersebut digunakan untuk membantu perencanaan kebutuhan dan produksi di peternakan. Salah satu pendekatan simulasi yang bisa digunakan adalah Agent Based Modeling and Simulation (ABMS) (North & Macal, 2007). Metode pemodelan meggunakan ABMS merupakan suatu metode yang paling baru dalam pemodelan simulasi. Walaupun begitu, ABMS sudah mulai banyak digunakan sebagai alat bantu pemecahan masalah, misalnya adalah pemecahan masalah industri kelistrikan dengan menggunakan ABMS (Koritarov, 2004), dan mengenai perilaku konsumen pada pasar telekomunikasi dan media dengan menggunakan ABMS (Twomey & Cadman, 2002).