// <![CDATA[TINGKAT KEWASPADAAN DAN PERILAKU PENGENDARA MOTOR DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN GENDER MENGGUNAKAN METODE QUASA DAN DRIVER BEHAVIOUR QUESTIONNAIRE]]> Sri Maryati / 13-2007-073 Dosen Pembimbing 1 Yuniar, Ir., M.T. Arie Desrianty, S.T., M.T.
Dalam kehidupan sehari-hari alat transportasi sangat dibutuhkan oleh manusia untuk melakukan aktifitas dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Hal tersebut membuat orang-orang lebih memilih sepeda motor sebagai alat transportasi karena dianggap paling praktis dan ekonomis. Sepeda motor memiliki kemampuan untuk melalui jalan yang relatif kecil, sepeda motor seakan menjadi kendaraan yang bebas macet dan efektif dengan pemakaian BBM yang ekonomis serta murah dalam biaya perawatannya. Saat ini banyak pengendara sepeda motor yang memadati jalan, salah satunya di Kota Bandung. Perilaku yang tidak memperdulikan kenyamanan dan keselamatan dirinya sendiri maupun orang lain dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Hal tersebut dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah kecelakaan dari tahun ke tahun mulai dari tahun 2007 sampai dengan 2009 menurut data POLRI. Meningkatnya jumlah kecelakaan dapat diakibatkan karena kurang memadainya kewaspadaan seseorang saat berkendara dan perilaku berkendara yang berisiko. Terdapat perbedaan karakteristik berkendara antara pengendara pria dan wanita. Pengendara pria lebih bersedia mengambil resiko, memiliki motivasi lebih rendah untuk mematuhi peraturan lalu lintas meskipun pengendara memahami dan mengerti dengan peraturan pada saat berkendara, selain itu tingkat mengebut di jalan raya pria secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan pengendara sepeda motor wanita. Pengendara sepeda motor wanita cenderung lebih mengalah pada saat berkendara dan lebih mematuhi peraturan lalu lintas. Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran tingkat kewaspadaan untuk pengendara sepeda motor berdasarkan gender di Kota Bandung dengan menggunakan metode Quantitative Analysis of Situational Awareness (QUASA) serta melakukan identifikasi perilaku berkendara menggunakan Driver Behaviour Questionnaire (DBQ). Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu merumuskan masalah yang terjadi pada pengendara sepeda motor di Kota Bandung, penentuan karakteristik responden. Melakukan perancangan kuesioner yang terdiri dari dua buah kuesioner, pertama adalah kuesioner Situational Awareness (SA) dan yang kedua adalah Driver Behaviour Questionnaire (DBQ). Kuesioner yang telah dirancang tersebut dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan uji korelasi pearson dan spearman brown. Penentuan ukuran sampel dilakukan dengan menggunakan rumus slovin dengan jumlah populasi yang didapat dari jumlah kepemilikan SIM C di Kota Bandung. Setelah dilakukan penyebaran kuesioner sesuai dengan jumlah sampel kemudian dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metode QUASA dan DBQ yang akhirnya akan memberikan usulan perbaikan agar dapat meminimasi jumlah kecelakaan yang terjadi. Pengendara sepeda motor pria memiliki tingkat kewaspadaan sebesar 57,556% sedangkan pengendara wanita sebesar 66,098%. Tingkat kewaspadaan pengendara sepeda motor wanita lebih besar dibandingkan pria, hal tersebut menunjukan kewaspadaan pengendara sepeda motor wanita lebih baik dibandingkan kewaspadaan pria, namun masih saja pengendara sepeda motor wanita merasa bahwa dia sudah waspada dan berkendara dengan baik dan aman. Identifikasi perilaku saat berkendara pengendara pria dan wanita dengan menggunakan DBQ diperoleh bahwa pengendara pria tergolong ke dalam perilaku penyimpangan, kesalahan, pelanggaran biasa dan pelanggaran agresif. Pengendara wanita tergolong ke dalam perilaku pelanggaran biasa dan pelanggaran agresif. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh usulan perbaikan yang ditujukan kepada kepolisian lalu lintas Kota Bandung untuk lebih meningkatkan pengawasan kepada seluruh pengendara yang melakukan pelanggaran lalu lintas yang sering terjadi seperti menggunakan telepon genggam, dan kepolisian juga memperbaiki sistem pembuatan surat izin mengenmudi karena banyak pengendara yang mendapatkan surat izin mengemudi dengan cara non tes, sehingga pengendara tidak memahami mengenai peraturan lalu lintas. Dinas perhubungan darat diharapkan dapat menambah fasilitas timer pada seluruh lampu lalu lintas di Kota Bandung, sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan seluruh pengendara karena dapat mengetahui kapan lampu lalu lintas akan berwarna merah dan hijau.