// <![CDATA[KAMPUNG WISATA KEBUDAYAAN DAN PERISTIRAHATAN LEMBANG]]> FAHMI ANSHARI / 21.2006.028 Dosen Pembimbing 1 Ir. Shirley, MT. Erwin Yuniar . ST, MT.
“Sarana Rekreasi dan cottage ” merupakan tempat untuk melepaskan kelelahan, berupa akomodasi jasa penginapan, makan, dan minum yang bernuansakan permukiman daerah setempat serta dapat melakukan kegiatan penyegaran dan membuka wawasan dengan menikmati hasil karya, rasa, dan cipta kebudayaan masyarakat setempat.Judul yang diambil untuk proyek ini adalah “kampung wisata kebudayaan dan peristirahatan Lembang” Tema perancangan pada proyek ini adalah “ kontekstual dengan potensi alam dan kebudayaan lokal”. Berbicara tentang Kontekstual pada lingkungan menjadi sesuatu yang harus diterapkan pada perancangan bangunan pada saat ini, ada dua hal yang harus digarisbawahi dalam berbicara kontekstual pada lingkungan, pertama kontekstual terhadap potensi alam dan kedua yaitu kontekstual terhadap kebudayaan lingkungan sekitar. Sudah seharusnya perancangan bangunan pada saat ini memperhatikan potensi alam sekitarnya, karena dilihat dari perkembangan sumber daya alam yang semakin habis oleh era globalisasi zaman. Banyak istilah perancangan yang lahir untuk merespon dan mengantisipasi fenomena tersebut, seperti bioclimatic architecture, green architecture, sampai sustainable architecture, akan tetapi sebelum berfikir lebih jauh seperti itu, untuk lahir perancangan bangunan yang baik pada saat ini, hal kecil seperti merancang bangunan dengan memanfaatkan potensi eksisting alam sekitar sudah merupakan sumbangan yang besar bagi kelangsungan sumber daya alam kehidupan ini. Lokalitas kebudayaan yang menjadi citra bangsa, dalam perancangan bangunan zaman sekarang semakin memudar. Fenomena yang terjadi pada saat ini, dapat kita lihat dari generasi muda bangsa kita sendiri yang masih banyak tidak mengetahui akan kekayaan kebudayaannya, karena kebanyakan gaya hidup anak muda pada masa ini hanya bereuforia, (hanya ingin bersenangsenang) Kurangnya pemberdayaan kepada masyarakat menimbulkan fenomena ini, dan langkah yang tepat untuk merespon hal ini, dengan memberikan ajang rekreasi ( yang menyenangkan) dengan unsur kebudayaan, agar disesuaikan dengan fenomena tersebut. Tentunya dengan langkah ini kebudayaan akan lebih diminati dan ajang ini juga merupakan sebagai pemberdayaan masyarakat akan lokalitas kebudayaannya. Berbicara mengenai lokalitas budaya yang dapat diambil untuk tema perancangan ini, kebudayaan “Sunda” merupakan kebudayaan yang dapat digali dari kawasan setempat. Dalam bidang Arsitektur. kebudayaan sunda mempunyai karakteristik yang unik, dan filosofis mulai dari konsep dan makna yang dikandung sampai dengan bentuk fisik yang dinamis atau beranekaragam. Hal yang paling penting, mengapa tema perancangan ini mengangkat unsur lokalitas seperti konsep arsitektur sunda adalah agar nilai budaya bangsa terus dapat terlestarikan dan dapat menghadapi tantangan globalisasi. Perencanaan proyek ini diawali dengan menganalisa kondisi tapak, kebutuhan ruang, dan aktivitas yang akan terjadi. Setelah proses perencanaan, kebutuhan ruang yang dibutuhkan disesuaikan dengan luas tapak. Proses perencanaan menjadi titik awal untuk dilanjutkan menuju proses perancangan. Kemudian, segala aspek yang telah dituangkan dalam proses perencanaan dilanjutkan menjadi proses skematik. Semua proses tersebut menjadi satu kesatuan untuk mencapai proses perancangan yang utuh. Metode yang digunakan adalah metode analisis yang dilakukan meliputi tahap pengumpulan data (studi literatur, observasi lapangan, wawancara, studi banding, seleksi), tahap analisis dan sintesis, dan tahap pengembangan konsep. Proses konsep perancangan ini mengacu pada hasil analisis dan studi pembelajaran berdasarkan tema dan judul yang diambil. Dengan adanya proyek ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengolahan tema dan judul serta pengembangan pola pembelajaran akan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diharapkan akan meningkatkan potensi sumberdaya pelajar dan masyarakat di kawasan tertentu.