// <![CDATA[USULAN STRATEGI PENINGKATAN KINERJA MASINIS DAN ASISTEN MASINIS BERDASARKAN FAKTOR PEMICU STRES KERJA DALAM NIOSH GENERAL JOB STRESS QUESTIONNAIRE]]> Angga Pramadi Kusuma / 13-2007-080 Dosen Pembimbing 1 Ir. Caecillia Sri Wahyuning, M.T. Arie Desrianty, S.T., M.T
Kereta api merupakan alat transportasi massal yang umumnya terdiri dari lokomotif dan rangkaian kereta atau gerbong. Sangat banyak masyarakat di Indonesia yang menggunakan kereta api, terutama bagi masyarakat yang berada di Pulau Jawa. Meskipun demikian, permasalahan yang cukup mengganggu perkeretaapian sampai saat ini adalah tingginya tingkat kecelakaan kereta api. Pada penyelidikan terhadap berbagai kasus kecelakaan kereta api selama ini, sebagian besar menunjukkan adanya faktor human error. Kondisi psikologis sumber daya manusia yang terlibat dalam perjalanan kereta api harus lebih diperhatikan lagi, terutama masinis sebagai frontliner. Ketika masinis mengalami stres kerja maka kinerjanya akan menurun, dan disisi lain potensi terjadinya suatu kecelakaan kereta api justru akan meningkat. Oleh karena itu, diperlukan suatu pengukuran tingkat stres kerja dan identifikasi terhadap faktor pemicu stres kerja pada masinis. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah merancang suatu strategi intervensi untuk meminimasi dampak negatif dari stres kerja yang dialami masinis, berdasarkan faktor dominan pemicu stres kerja. Proses utama dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran terhadap tingkat stres kerja. Metode pengukuran yang digunakan adalah metode pengukuran subjektif dengan menggunakan kuesioner (NIOSH General Job Stress Questionnaire), sedangkan teknik pengukuran dan pengolahan data kuesioner dilakukan secara kuantitatif. Kuesioner tersebut terdiri dari sembilan belas faktor yang dapat mempengaruhi tingkat stres kerja. Sebelum melakukan pengumpulan data, terdapat beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu identifikasi responden, penyesuaian kuesioner penelitian, desain sampling untuk menentukan jumlah responden, serta uji validitas dan uji reliabilitas. Setelah kuesioner disebarkan, kemudian hasilnya diolah sehingga dapat diketahui faktor apa saja yang menjadi pemicu stres kerja pada masinis dan asisten masinis berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Pengolahan data menghasilkan empat faktor dominan pemicu stres kerja pada masinis dan asisten masinis, yaitu Faktor Tuntutan Mental, Faktor Lingkungan Fisik, Faktor Beban Kerja dan Tanggung Jawab, serta Faktor Peluang Kerja. Berdasarkan faktor dominan tersebut, dirancang suatu strategi intervensi untuk mengurangi stres kerja yang dialami oleh masinis dan asisten masinis sebagai berikut: 1. Memberikan pembinaan kepada masinis dan asisten masinis mengenai penguasaan terhadap semboyan dan sinyal yang digunakan dalam sistem perjalanan kereta api dan kesempatan untuk melakukan penyegaran (refreshing) bersama keluarganya ketika sedang tidak bertugas (libur). 2. Melakukan perubahan dan perbaikan terhadap kondisi kabin lokomotif, dengan cara menambah busa telur atau bahan peredam suara lain pada dinding kabin lokomotif, memasang exhaust fan untuk membantu sirkulasi udara, dan memasang penutup jendela yang dapat disesuaikan untuk mengurangi masuknya pancaran sinar matahari atau panas berlebihan yang dapat mengganggu. 3. Merubah sudut pandang masinis dan asisten masinis terhadap beban kerja dan tanggung jawab yang dimilikinya, menjadi motivasi untuk bekerja lebih baik lagi. 4. Memberikan kesempatan yang sama kepada masinis dan asisten masinis untuk mengembangkan karir, dan memberikan gambaran yang jelas mengenai jenjang karir pekerjaan masinis dan asisten masinis, sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan untuk mencapai karir yang diinginkan.