// <![CDATA[RANCANGAN LINTASAN PERAKITAN PEMBUATAN SEPATU DENGAN KRITERIA MINIMISASI JUMLAH OPERATOR DI PT PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE]]> ANDRI ADHIANTO / 13-2007-178 Dosen Pembimbing 1 Ir. Yuniar, MT. Dosen Pembimbing 1 Lisye Fitria, Ir., MT. Dosen Pembimbing 2
PT Primarindo Asia Infrastructure adalah industri yang bergerak dalam bidang industri sepatu, khususnya sepatu olahraga dalam berbagai fungsi dan ukuran. Selama ini produksi PT Primarindo Asia Infrastructure didasarkan atas pesanan dari pelanggan yang berasal dari luar negeri dan lokal. Hampir seluruh sepatu olahraga hasil produksi PT Primarindo Asia Infrastructure adalah untuk diekspor. Produk sepatu yang diproduksi harus memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh pembeli dengan desain yang dibuat perusahaan atau pelanggan yang merupakan pemegang merk atau pemegang lisensi dari merk terkemuka. Kondisi yang ada saat ini di PT Primarindo Asia Infrastructure adalah perancangan lintasan perakitan yang kurang baik sehingga pengalokasian sejumlah operator di setiap stasiun kerja kurang optimal. Pada penelitian ini akan dirancang ulang lintasan perakitan dengan pengalokasian sejumlah elemen kerja dan operator untuk setiap stasiun kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model optimisasi. Penggunaan model ini bertujuan agar jumlah permintaan (demand rate) dapat terpenuhi sesuai dengan kecepatan produksi yang telah ditentukan. Penentuan jumlah operator pada setiap stasiun kerja dipengaruhi oleh banyaknya elemen kerja dan waktu penyelesaian pada stasiun kerja tersebut. Semakin banyak elemen kerja pada suatu stasiun kerja, maka semakin besar waktu penyelesaian pekerjaan pada stasiun kerja tersebut. Penyelesaian masalah tersebut mennggunakan pengembangan model keseimbangan lintasan perakitan untuk pengalokasian sejumlah operator dengan kriteria minimisasi jumlah operator. Dari hasil konfigurasi jumlah operator setiap stasiun kerja diperoleh menggunakan Software Lingo 9.0 dengan jumlah operator minimum sebanyak 40 orang pada 13 stasiun kerja dan 17 stasiun kerja. Selain jumlah operator, pemilihan stasiun kerja berdasarkan nilai efisiensi di setiap stasiun kerja yang paling besar. Stasiun kerja yang terpilih adalah 17 stasiun kerja dengan nilai efisiensi sebesar 77,512%