TINGKAT KESENJANGAN KOMPETENSI PEGAWAI ADMINISTRASI DI BIRO ADMINISTRASI AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN (BAAK) ITENAS (STUDI KASUS DI BAGIAN REGISTRASI DAN NILAI)
Sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu modal dasar bagi suatu institusi atau organisasi, oleh karena itu kualitas dan kompetensi SDM senantiasa harus dikembangkan dan diarahkan agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk menunjang tujuan Institusi, Itenas memiliki 3 biro unsur pelayanan administratif yang salah satunya adalah Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK). Hasil wawancara dengan Kepala BAAK dan konsumen BAAK menunjukkan rendahnya kecepatan kerja dan ketidaktercapaian suatu pekerjaan dari setiap pegawai. Beberapa hal tersebut menjadi dasar dugaan setiap pegawai memiliki kekurangan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, perilaku, dan sifat yang berpengaruh kepada performansi kerja atau disebut juga kompetensi. Berkaitan dengan masalah tersebut, saat ini Itenas mendapat hibah dari pemerintah yang bersifat kompetisi dan membentuk tim kerja yaitu tim kerja Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI). Salah satu program PHKI adalah Pengembangan Human Resource Planning (HRP) yang dirancang melalui kegiatan Pemetaan Kompetensi SDM, khususnya untuk SDM non Akademik. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang berkaitan dengan Pemetaan Kompetensi SDM. Penelitian tersebut dilakukan terhadap pegawai administrasi pada bagian Registrasi Dan Nilai di BAAK Itenas yang berjumlah 5 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesenjangan kompetensi pegawai adminstrasi di BAAK Itenas. Penelitian dilakukan melalui proses penyusunan alat ukur kompetensi. Proses penyusunan alat ukur kompetensi tersebut meliputi proses pemetaan kompetensi, penyusunan dan pengujian alat ukur pengukuran kompetensi. Hasil dari proses tersebut adalah kuesioner pengukuran kompetensi. Kuesioner pengukuran kompetensi digunakan untuk melakukan penentuan kebutuhan kompetensi jabatan (KKJ) dan pengukuranm kompetensi individu (KI). KKJ merupakan kompetensi ideal yang dibutuhkan pegawai untuk menempati suatu jabatan, sedangkan KI merupakan kompetensi yang dimiliki pegawai pada kondisi aktual. Dengan membandingkan KKJ dengan KI, maka menghasilkan gap yang menunjukkan kesenjangan kompetensi. Analisis dilakukan terhadap gap KKJ dengan KI berdasarkan hasil pengukuran kompetensi. Gambaran umum gap kompetensi menunjukkan rata-rata KKJ tidak terpenuhi oleh KI seorang pegawai yang menempati suatu jabatan. Hal tersebut menggambarkan bahwa kompetensi individu dari sebagian besar pegawai masih kurang untuk dapat memenuhi kompetensi ideal yang dibutuhkan pada jabatan yang ditempatinya Hasil dari analisis menunjukkan faktor yang menjadi penyebab terjadinya gap kompetensi adalah belum tersosialisasikannya job description, sistem pengukuran kompetensi dan perbedaan persepsi mengenai pencapaian kompetensi. Beberapa usulan untuk mengatasi masalah tersebut adalah disusunnya indikator pekerjaan yang jelas, sosialisasi job description dan penerapan system pengukuran kompetensi secara berkala serta menyeluruh kepada setiap pegawai administrasi di BAAK dengan disertai pengawasan dan evaluasi.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2011).TINGKAT KESENJANGAN KOMPETENSI PEGAWAI ADMINISTRASI DI BIRO ADMINISTRASI AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN (BAAK) ITENAS (STUDI KASUS DI BAGIAN REGISTRASI DAN NILAI) ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.TINGKAT KESENJANGAN KOMPETENSI PEGAWAI ADMINISTRASI DI BIRO ADMINISTRASI AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN (BAAK) ITENAS (STUDI KASUS DI BAGIAN REGISTRASI DAN NILAI) ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
MLA Style
.TINGKAT KESENJANGAN KOMPETENSI PEGAWAI ADMINISTRASI DI BIRO ADMINISTRASI AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN (BAAK) ITENAS (STUDI KASUS DI BAGIAN REGISTRASI DAN NILAI) ().Teknik Industri:FTI,2011.Text
Turabian Style
.TINGKAT KESENJANGAN KOMPETENSI PEGAWAI ADMINISTRASI DI BIRO ADMINISTRASI AKADEMIK DAN KEMAHASISWAAN (BAAK) ITENAS (STUDI KASUS DI BAGIAN REGISTRASI DAN NILAI) ().Teknik Industri:FTI,2011.Text