// <![CDATA[ANALISIS PENGARUH KEGAGALAN KOGNITIF TERHADAP TINGKAT KECEPATAN REAKSI MASINIS]]> Adhistie Isnamurtie / 13-2007-066 Dosen Pembimbing 1 Arie Desrianty, S.T., M.T. Caecillia S. W., Ir., M.T.
Kereta api masih banyak diminati oleh masyarakat dalam menempuh perjalanan baik dalam kota maupun antar kota. Biaya yang murah pun menjadi alasan mengapa masyarakat memilih kereta api. Selain itu, masyarakat cenderung memilih kereta api karena lebih aman dari pada menggunakan motor. Meskipun demikian, masyarakat masih khawatir dengan kecelakaan kereta api yang sering kali terjadi. Penyebab terjadinya kecelakaan kereta api sering kali seolaholah hanya karena kesalahan faktor manusia (human error), yang diarahkan pada keterbatasan kognisi masinis. Pekerjaan masinis, dengan sistem kerja yang kompleks, termasuk pengaturan dan prosedur kerja yang ketat, hampir seluruhnya melibatkan proses kognitif, dari mulai sebelum dinasan, selama perjalanan KA, hingga menjelang akhir dinasan. Adanya kegagalan pada proses kognitif baik pada tahap persepsi, proses, maupun respon, dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang salah, sehingga output yang dihasilkan (feedback/respond) akan sangat membahayakan. Kegagalan kognitif dalam kehidupan sehari-hari, juga diperkirakan akan mempengaruhi kecepatan reaksi masinis dalam memberikan respon. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan dan menganalisis pengaruh kegagalan kognitif dengan kecepatan reaksi masinis. Kegagalan kognitif diukur dengan menggunakan Cognitive Failure Questionnaire (CFQ), sedangkan tingkat kecepatan reaksi dari masing-masing individu masinis tersebut dapat diperoleh melalui penggunaan software ‘DirectRT’, dimana tes yang dilakukan adalah berupa simple reaction time dan recognition reaction time. Sebagai pra-syarat uji korelasi, sebelumnya dilakukan uji normalitas pada masing-masing variabel, kemudian dilakukan uji linearitas antara kedua variabel tersebut, dan selanjutnya dilakukan uji korelasi. Hasil dari uji korelasi menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan signifikan dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.308 (r = 0.308). Keeratan hubungan tersebut digambarkan pada kondisi kegagalan kognitif yang terjadi dalam keadaan darurat, saat masinis mengalami stress, ataupun lelah yang dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang salah, dan menjadi tidak mampu untuk memberi respon dengan cepat dan benar.