// <![CDATA[RANCANGAN SISTEM PENILAIAN KINERJA UNTUK OPERATOR HEADING & THREADING PRODUK ROD BRAKE MENGGUNAKAN METODA RATING SCALE]]> ANJAR BOY GARDIA SINAGA / 13.2007.158 Dosen Pembimbing 1 Hendang Setyo Rukmi, ST., MT. Rispianda, ST., MT., M.Phil.
Berdikari Metal & Engineering merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan spare part motor yang salah satu produknya adalah rod brake D59. Produk rod brake 5D9 merupakan produk yang banyak dipesan sehingga diproduksi setiap hari. Stasiun kerja pembuatan rod brake terdiri dari stasiun kerja cutting, heading, grindding, threading, bending. Berdasarkan data pada Bagian Quality Control stasiun kerja heading dan threading menghasilkan jumlah cacat yang paling banyak. Menurut supervisor, faktor utama penyebab cacat pada stasiun kerja heading dan threading adalah manusia. Cacat yang dihasilkan pada stasiun kerja heading dan threading diduga penyebab utamanya adalah operator kurang mampu melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan baik. Pihak Manajemen merencanakan training atau replacement untuk operator. Namun, dalam menentukan kebijakan tersebut, pihak manajemen belum mendapat informasi tentang evaluasi kemampuan teknis operator karena penilaian kinerja yang ada hanya berdasarkan absensi, kedisiplinan, target produksi. Sehingga diperlukan rancangan penilaian kinerja yang mampu mengevaluasi kemampuan teknis operator. Penilaian kinerja yang dirancang menggunakan metode rating scale. Kriteria penilaian ditentukan berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang memiliki kemungkinan menghasilkan produk cacat jika SOP tersebut tidak dijalankan, sehingga menghasilkan jenis cacat yang mungkin terjadi tiap kriteria. Tahap selanjutnya, menentukan bobot kriteria penilaian berdasarkan besar biaya kualitas yang dikeluarkan dibandingkan dengan total keseluruhan biaya kualitas. Kemudian, menentukan kategori penilaian kriteria. Kategori penilaian memiliki interval persentase cacat yang dihasilkan sehingga akan dihitung besar persentase cacat tiap kriteria kemudian diklasifikasikan kedalam kategori penilaian, dimana masing-masing kategori memiliki nilai skala. Kategori penilaiannya adalah Sangat Baik dengan skala 5, Baik dengan skala 4, Cukup dengan skala 3, Kurang dengan skala 2, Sangat Kurang dengan skala 1. Kemudian menentukan standar minimal kompetensi yang harus dimiliki oleh operator agar terlihat gap performance, yaitu selisih dari performansi aktual dengan standar performansi yang ditetapkan. Kemudian melakukan perancangan form penilaian kinerja. Form yang dirancang berisikan identitas operator dan penilai, waktu penilaian, periode penilaian, persetujuan operator yang dinilai, bobot untuk masing-masing kriteria, kriteria penilaian, kategori, gap performance. Tahap selanjutnya adalah menerapkan rancangan penilaian kinerja sehingga dapat dianalisis kemampuan teknis operator yang sebaiknya ditingkatkan.